PUASA TARWIYAH DAN PUASA ARAFAH


Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur bagi Allah pencipta semesta alam yang telah menjalankan peredaran alam dengan sangat rapih, penuh kesempurnaan dan tanpa cacat. Mengedarkan Matahari dan Bulan sehingga memunculkan ketetapan masa.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi kita, Nani akhir zaman, Nabi Muhammad Saw. Yang telah memnunjukkan jalan kebenaran tanpa keraguan, yaitu agama Islam.

Kali ini penulis akan memberikan sedikit pencerahan mengenai puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, yang mana puasa tersebut akan berlangsung beberapa hari lagi. Dalam penjelasan ini akan dijelaskan sedikit tentang pengertian, dan fadhilah yang terkandung dari kedua puasa tersebut.

Pengertian Puasa Tarwiyah

Puasa tarwiyah adalah puasa suhan yang dilaksanakan sebelum puasa Arafah, tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijah. Puasa tarwiyah dilaksanakan sebelum puasa arafah dikarenakan pernyataan hadits yang menyebutkan bahwa:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

“Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Redaksi hadits tersebut menjelaskan puasa tarwiyah dilaksanakan sebelum puasa Arafah dan kemudian disusul puasa Arafah yang dilakukan setelahnya.

Istilah Tarwiyah berasal dari bahasa Arab (تَرَوَّي) “Membawa bekal Air”. Hal ini dikarenakan pada waktu itu para jamaah haji banyak yang membwa bekal air Zam-zam untuk mempersiapkan di padang Arafah ketika wukuf dan akan menuju Mina.

Menurut Ibnu Qadamah menjelaskan asal penamaan itu yaitu:

سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية

“Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari arafah. Ada juga yang mengatakan, dinamakan hari tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari tarwiyah”. (al-Mughni, 3/364).

Fadhilah Puasa tarwiyah

Seperti hadits yang telah disampaikan diatas bahwa puasa tarwiyah akan menghapuskan dosa satu tahun. Hal ini berlaku bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Selain itu bagi orang yang melakukan puasa Tarwiyah dan arafah berturut-turut, maka pahalanya sama dengan orang yang menjalankan ibadah haji. Wallahu a’lam.

Hukum Puasa Tarwiyah

Hukum melaksanakan puasa Tarwiyah adalah dianjurkan bagi orang yang tidak melaksanakkan haji. Sedangkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tidak dianjurkan untuk menjalankan puasa Tarwiyah, hal ini karena dikahwatirkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tidak kuat dalam berdoa, atau kekuatan fisiknya melemah akitat puasa yang dijalaninya.

Walaupun dalam keyataan bahwa sumber hadits dari puasa Tarwiyah adalah dloif, puasa ini tidak bisa diartikan sebagai landasan bid’ah, sehingga hukuman bagi yang menjalankan adalah haram, selain itu dalil-dalil yang menjelaskan kebolehannya menjalankan puasa di hari tarwiyah karena hari tersebut termasuk pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas meriwayatkan Rasulullah bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

“Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid)”. (HR Bukhari)

Dalil Tentang Puasa Tarwiyah

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa Tarwiyah, hadits itu menyatakan:

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun”.

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’. Tetapi para ulama berbeda pendapat, dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan hadits palsu. Hal ini dijelaskan oleh Ubnul Jauzi. Beliau mengata: “Hadits ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan. Penjelasan tersebut terdapat pada kitab al-Maudhu’at, 2/ 198).

Hal serupa dijelaskan oleh as-Saukani, mengatakan: “Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadits ini tidak shahih dikarenakan terdapat parawi yang bernama al-Kalbi, dia seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah).

Sebagian ulama mengatakan bahwa hadits itu bukan Maudhu’ melainkan hanya dho’if. Yaitu riwayat dari jalur lainnya yaitu dari jalur Ibnu Najjar.

صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة

“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu”.

Hadits tersebut oleh Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih. Dan kita tahu bahwa jumhurul ulama sepakat boleh mengamalkan hadits dho’if dalam fadhoil a’mal.

Dasar hadits yang dipergunakan ini adalah dhoif (kurang kuat riwayatnya) namun demikian para ulama memperbolehkan melaksanakan puasa Tarwiyah, yang dimaksudkan untuk memperoleh keutamaan dari puasa Tarwiyah tersebut (Fadloilul ‘amal). Agar umat Islam yang menjalankan puasa Tarwiyah mendapatkan keutamaan dari ibadah haji yang sedang berlangsung pada waktu itu. Puasa Tarwiyah tersebut juga tidak melanggar akidah maupun syariat islam.

Kedloifan hadits puasa Tarwiyah dikarenakan beberapa alasan, pertama: Kalbi (sanad ketiga) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalbi. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas). Selain itu menurut Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudlu’ (palsu)” Tentang Kalbi ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil.

Alasan yang kedua, Ali bin Ali Al-Himyari (sanad kedua) adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Tetapi kedloifan tentang puasa Tarwiyah tersebut bisa dijelaskan dengan hadits yang lain seperti misalnya: “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”. (Muttafakun ‘alaih).

Dan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (HR Bukhari Muslim).

Pengertian Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada setiap tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah), yang mana puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslim yang tidak menjalankan rukun Haji. Dalam melaksanakan puasa Arafah tidak jauh beda dengan puasa sunah pada umumnya. Di lakukan pada waktu terbit fajar sampai terbenamnya fajar.

Fadhilah puasa Arafah

Dari Abu Qatadah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

“Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura’ menghapuskan dosa tahun sebelumnya”. (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmizy).

Pelaksanaan puasa Arafah tersebut tiak didasarkan pada waktu wukuf yang dilaksanakan pada hari ke-9 Dzulhijah (hari Arafah), melainkan karena datangnya hari Arafah. Oleh karena penetapan waktu daerah yang berlainan, maka penetapan itu ditetapkan menyesuaikan dengan daerah asalnya (Makkah). Dimana waktu negara Indonesia dengan Arab selisih 4-5 jam lebih dahulu Arab. Penentuan ini di dasarkan pada letak geografis yang menjadikan perbedaan waktu.

Keutamaan Puasa Arafah

Dari Abu Qatadah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

…صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Hukum Puasa Arafah

Hukum puasa Arafah adalah sunah Muakad atau sunah yang dianjurkan, tetapi bagi yang melaksanakan ibadah Haji tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, karena terdapat perbedaan pada masalah ini. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau berkata,

سُئِلَ ابْنُ عُمَرَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَأَنَا لَا َأصُوْمُهُ وَلَا أَمُرُ بِهِ وَلَا أَنْهَى عَنْهُ

“Saya telah melaksanakan haji bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau tidak puasa di ‘Arafah, saya juga pernah berhaji bersama Abu Bakar dia juga tidak puasa ‘Arafah, pernah juga bersama Umar dan dia tidak berpuasa, demikian juga halnya bersama ‘Utsman dia juga tidak berpuasa, dan saya tidak berpuasa juga, saya tidak memerintahkan dan tidak melarangnya”.

Di riwayatkan juga oleh Abu Hurairah berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah”. (HR. Abu Daud No. 2440, Ibnu Majah No. 1732, Ahmad No. 8031, An Nasa’i No. 2830, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 2731, Ibnu Khuzaimah No. 2101, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1587).

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” (Al Mustadrak No. 1587) Imam Adz Dzahabi menyepakati penshahihannya. Dishahihkan pula oleh Imam Ibnu Khuzaimah, ketika beliau memasukkannya dalam kitab Shahihnya. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar: Aku berkata: Ibnu Khuzaimah telah menshahihkannya, dan Mahdi telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. (At Talkhish, 2/461-462).

Seperti yang telah disebutkan dalam hadits tersebut memang dianjurkan untuk tidak berpuasa bahkan melarangnya dengan alasan agar bagi orang yang sedang melaksanakan wukuf kuat dalam berdoa dan melaksanakan ibadah, seperti misalnya shalat sunnah, membaca al-Quran, berdzikir, dll. Penguatan agar tidak menjalankan puasa ketika wukur adalah para sahabat (Abubakar Umar, dan Usman), tidak melaksanakan puasa arafah ketika wukuf.

Sebab perbedaan tersebut terjadi perbedaan pendapat dikarenakan apabila Nabi Muhammad melakukan puasa Arafah ketika wukuf, akan menjadikan puasa Arafah di hukumi wajib untuk dilaksanakan bagi orang yang melaksanaka haji.

Sedangkan para ulama yang membolehkan puasa Arafah adalah Imam Al Munawi yang berpendapat bahwa, “Berkata Al Hakim: ‘Sesuai syarat Bukhari’, mereka (para ulama) telah menyanggahnya karena terjadi ketidakjelasan pada Mahdi, dia bukan termasuk perawinya Bukhari, bahkan Ibnu Ma’in mengatakan: ‘Majhul’. Al ‘Uqaili mengatakan: ‘Dia tidak bisa diikuti karena kelemahannya’. (Faidhul Qadir, 6/431)  Lalu,  Mahdi Al Muharibi – dia adalah Ibnu Harb Al Hijri, dinyatakan majhul (tidak diketahui) keadaannya oleh para muhadditsin.

Ke majhulan Mahdi al-Muharibi juga di sebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (At Talkhish Al Habir,  2/461), Imam Al ‘Uqaili mengatakan dalam Adh Dhuafa: “Dia tidak bisa diikuti”.

Selain para ulama diatas juga terdapat ulama lain diantaranya adalah Imam Yahya bin Ma’in, Imam Abu Hatim, dan Imam Ibnul Qayyim.

Hal ini juga dijadikan sandaran hukum bagi pengikut mazhan Hanafiyah seperti yang tercantum pada kitab karangan Syaikh Wahbah az-Zuhaili, dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu bahwa, “Boleh saja berpuasa Arafah bagi jamaah haji yang sedang wukuf jika itu tidak membuatnya lemah”. Lebih lanjut beliau mengatakan tidak dianjurkan bagi jamaah haji yang fisiknya tidak kuat, tujuannya agar kuat melakukan doa, adapun para jamaah haji, tidaklah disunahkan berpuasa pada hari Arafah, tetapi disunahkan untuk berbuka walau pun dia orang yang kuat, agar dia kuat untuk banyak berdoa, dan untuk mengikuti sunah. Pendapat ini menunjukkan bahwa disunahaknnya puasa Arafah bukan berarti tidak diperbolehkannya sama sekali. Kemakruhan puasa Arafah juga berlaku untuk puasa Tarwiyah.

Menurut pendapat mazhab Malikiyah di hukumi makruh bagi jamaah haji yang melaksanakan puasa Arafah, begitu juga ketika puasa Tarwiyah.

Menurut Mazhab Syafi’iyah berpendapat: “jika jamaah haji mukim di Mekkah, lalu pergi ke ‘Arafah siang hari maka  puasanya itu  menyelisihi hal yang lebih utama, jika pergi ke ‘Arafah malam hari maka boleh berpuasa. Jika jamaah haji adalah musafir, maka secara mutlak disunahkan untuk berbuka”.

Sedangkan menurut mazhab Hambali berpendapat bahwa: “Disunahkan bagi para jamaah haji berpuasa pada hari ‘Arafah jika wuqufnya malam,  bukan wuquf pada siang hari, jika wuqufnya siang maka makruh berpuasa”.

***

Terlepas dari boleh tidaknya puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, berikut itu ada beberapa dalil yang menjelaskan tentang anjuran untuk melakukan puasa 10 hari pertama bulan Dzulhijah yang dijelaskan secara khusus oleh Syaikh Musthafa Al Adawi, diantara hadits tersebut adalah:

Hadits Ummul Mukminîn ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang dikeluarkan oleh Muslim yang redaksinya, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah berpuasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah).”

Dikeluarkan oleh an-Nasâi dan lainnya dari jalur seorang rawi yang bernama Hunaidah bin Khâlid, terkadang ia meriwayatkannya dari Hafshah ia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: (diantaranya): puasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah)”.

Selain itu ada hadits lain dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi)

Dari kedua hadits diatas menurut pernyataan  Hunaidah pada riwayat ini diperselisihkan oleh ulama, sebab terkadang ia meriwayatkan dari ibunya, dari Ummu Salamah sebagai ganti dari Hafshah, dan terkadang pula dari Ummu Salamah secara langsung, kemudian ia mendatangkan bentuk lain dari bentuk-bentuk yang berbeda!”

Dari sisi keabsahan, maka yang unggul bahwa hadits ‘Aisyah yang terdapat di dalam shahih Muslim adalah lebih shahih, sekalipun padanya terdapat bentuk perselisihan dari Al A’masy dan Manshûr.

Namun diantara ulama ada yang mencoba mengkompromikan dua hadits tersebut yang kesimpulannya, “Bahwa masing-masing dari istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang ia saksikan dari beliau, bagi yang tidak menyaksikan menafikkan keberadaannya, dan yang menyaksikan menetapkan keberadaannya, sedang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendiri menggilir setiap istrinya dalam sembilan malam (hanya) satu malam. Maka atas dasar ini dapat dikatakan, “Jika seseorang terkadang berpuasa dan terkadang tidak berpuasa, atau ia berpuasa beberapa tahun lalu tidak berpuasa beberapa tahun (berikutnya) ada benarnya, maka manapun dari dua pendapat tersebut diamalkan maka ia telah memiliki salaf (pendahulu)”.

Demikianlah sedikit penjelasan dari penulis, semoga dapat menjadikan kemanfaatan bagi kita semua, terutama dalam menyikapi perbedaan sebagaimana yang telah penulis kemukakan diatas. Perbedaan adalah anugerah dari Allah, maka jadikanlah hal tersebut sebagai rahmat yang mempererat tali persaudaraan, dan tidak dijadikan sebagai alat untuk memecah belah manhaj yang sudah dibangun oleh para pendahulu kita semua.

Wallahu a’lam bis shawab.

Tentang SAMSUL HUDA

Kata orang saya adalah orang yang bodo dan bikin jengkel orang yang dekat dengan saya. Sekarang pun saya masih menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya sudah mendapatkan gelar sarjana muda. Itu bukti bahwa mungkin apa yang dikatakakn orang itu benar tentang saya.
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA, CORETAN TINTA, ISLAM, SOSIAL dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s