KAJIAN TENTANG SHALAT JUM’AT


Jamaah Shalat Jumat

Jamaah Shalat Jumat

A.      Hukum Dan Pensyariatannya

Shalat Jumat hukumnya fardu ‘ain (wajib) bagi setiap orang islam laki-laki, hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Dan dalil pensyariatannya termaktub di dalam Al-Quran dan  As-sunnah an-Nabawiyah, sehingga pengingkaran atas syariat wajib jum’at adalah kekafiran.

Hanya Ibnu Rusyd menyebutkan adanya beberapa pendapat yang berlainan dalam kitabnya, tetapi hal ini telah dibantah oleh para ulama, dan ulama telah menetapkan tidaklah mengingkari wajibnya jum’at kecuali ahlu bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Berikut ini dalil-dalil hukum fardhu ‘ain shalat jum’at bagi laki-laki :

1.   Al-Quran

Perintah wajibnya shalat jum’at termaktub dalam ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( Al-Jumu`ah : 9).

2.   Sunnah

Diantara hadits-hadits yang menerangkan pensyariatan shalat jum’at adalah :

       a.    Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri ra. berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ تَرَكَ َثلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طبَعَ الله عَلىَ قَلْبِهِ

“Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Daud).

        b.   Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda:

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِ أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ

“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali atas 4 golongan, (yaitu) Budak, Wanita, Anak kecil dan Orang sakit.” (HR. Abu Daud)

     c.  Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu `anhuma, bahwa merekmendengar Rasulullah Saw bersabda di atas mimbar :

لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits-hadits diatas, para ulama menghukumi orang-orang yang meninggalkan kewajiban shalat jum’at adalah pelaku dosa besar dan termasuk kekufuran.

B.       Orang yang Wajib Menjalankan Shalat Jum’at

Shalat Jum’at wajib atas golongan berikut:

           1.  Seorang muslim yang sudah baligh dan berakal

Dengan demikian, orang kafir tidak wajib Jum’atan, bahkan jika mengerjakannya tidak dianggap sah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ اَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ اِلَّآ اَنَّهُمْ كَفَرُوْابِااللهِ وَبِرَسُوْلِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (at-Taubah: 54)

Apabila Allah Subhanahu wata’ala tidak menerima infak orang kafir padahal manfaatnya sangat luas, tentu ibadah yang manfaatnya terbatas (untuk pelaku) lebih tidak terima. (lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/10)

Adapun anak kecil yang belum baligh tidak wajib Jum’atan karena belum dibebani syariat. Meskipun demikian, anak laki-laki yang sudah mumayyiz (biasanya berusia tujuh tahun lebih), dianjurkan kepada walinya agar memerintahnya menghadiri shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مُرُوْا الصَّبِيَّ بِالصَّ ةَالِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ

“Perintahkan anak kecil untuk mengerjakan shalat apabila sudah berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud dari Sabrah radhiyallahu ‘anhu. Al-‘Allamah al-Albani memasukkan hadits ini dalam Shahih al-Jami’)

Sementara itu, orang yang tidak berakal (gila) secara total berarti dia bukan orang yang cakap untuk diarahkan kepadanya perintah syariat atau larangannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِم حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَشِبَّ، وَعَنِ الْمَعْتُوْهِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena terangkat dari tiga golongan : dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia dewasa, dan dari orang gila sampai dia (kembali) berakal (waras).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1423)

Yang dimaksud dengan “pena terangkat” adalah tidak adanya beban syariat.

           2.   Laki-laki

Maka dari itu, tidak wajib shalat Jum’at atas perempuan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ اِ أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ

“Jum’atan adalah hak yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim secara berjamaah, kecuali empat orang: budak sahaya, wanita, anak kecil, atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 1067 dan dinyatakan sahih oleh an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ dan al-Albani rahimahullah dalam al-Irwa’ No. 592)

Seseorang yang berkelamin ganda (ambiguousgenitalia, keraguan alat kelamin, -red.) tidak wajib Jum’atan karena tidak terwujudnya persyaratan pada dirinya. Orang yang seperti itu tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, padahal hukum asalnya seorang itu terbebas dari tanggungan/kewajiban sampai yakin (adanya) persyaratan yang menjadikan ia diwajibkan. Sementara itu, di sini belum terbukti adanya persyaratan tersebut. (asy-Syarhul Mumti’ 5/7)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Teman-teman kami (ulama mazhab Syafi’i) telah berkata, ‘Tidak wajib Jum’atan bagi orang (yang berkelamin ganda) karena masih adanya keraguan tentang (syarat) wajibnya’.” (al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/350)

         3.     Orang yang merdeka (bukan budak sahaya)

Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama mengatakan bahwa budak sahaya tidak wajib Jum’atan berdasarkan hadits yang telah disebutkan pada poin kedua. Hal ini juga dikarenakan manfaat diri budak sahaya dimiliki oleh tuannya sehingga ia tidak leluasa. (lihat al-Majmu’ 4/351, an-Nawawi rahimahullah, dan al-Mughni 3/214, Ibnu Qudamah)

Namun, sebagian ulama berpendapat, apabila tuannya mengizinkannya untuk Jum’atan, dia wajib menghadiri Jum’atan karena sudah tidak ada uzur lagi baginya. Pendapat ini yang dirajihkan (dikuatkan) oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (asy-SyarhulMumti’ 5/9).

          4.   Orang yang menetap dan bukan musafir (orang yang sedang bepergian)

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa musafir tidak wajib Jum’atan. Di antara ulama tersebut adalah al-Imam Malik, ats-Tsauri, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur.

Di antara hujah (argumen) mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu melakukan safar/bepergian dan beliau tidak shalat Jum’at dalam safarnya. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan haji wada’ di Padang Arafah (wukuf) pada hari Jum’at, beliau shalat zhuhur dan ashar dengan menjamak keduanya dan tidak shalat Jum’at. Demikian pula para al-Khulafa’ ar-Rasyidin. Mereka safar untuk haji dan selainnya, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang shalat Jum’at saat bepergian. Demikian pula para sahabat Nabi selain al-Khulafa’ ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum dan yang setelah mereka.” (al-Mughni 3/216, Ibnu Qudamah)

Di antara dalil yang paling jelas tentang tidak wajibnya Jum’atan atas musafir adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Padang Arafah di hari Jum’at. Jabir  radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kemudian (muazin) mengumandangkan azan lalu iqamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zhuhur. Kemudian (muazin) iqamah, lalu shalat ashar.” (Shahih Muslim, “Kitabul Hajj” no. 1218)

Adapun tentang musafir yang singgah atau menetap bersama orang-orang mukim beberapa saat, sebagian ulama berpendapat disyariatkannya Jum’atan atas mereka karena mereka mengikuti orang-orang yang mukim.

Di antara hujahnya, dahulu para sahabat yang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tinggal di Madinah beberapa hari, yang tampak, mereka ikut shalat Jum’at bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/15)

Ulama juga mensyaratkan diwajibkannya Jum’atan atas seseorang yakni dia tinggal dan menetap di mana pun mereka menetap dan dari apa pun rumah mereka terbuat. Berbeda halnya dengan orang-orang badui yang senantiasa berpindah-pindah tempat untuk mencari lahan yang banyak rumput dan airnya. Orang yang seperti ini tidak wajib Jum’atan. (Lihat Fatawa Ibnu Taimiyyah 24/166-167)

Karena tinggal menetap di suatu tempat adalah syarat wajibnya Jum’atan, orang-orang yang bekerja di tengah laut seperti nakhoda, anak buah kapal (ABK), dan para musafirin yang ada di atas kapal tidak wajib Jum’atan. Bahkan, sebagian ulama mengatakan tidak sah jika mereka melakukan Jum’atan, sebagaimana pendapat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.  Sebab, menurut petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Jum’atan itu tidak dilakukan selain di perkotaan atau perdesaan yang memang tempat menetap. Adapun orang yang tengah berlayar, mereka tidak menetap dan berpindah-pindah. Jadi, yang wajib atas mereka adalah shalat zhuhur. (Lihat Fatawa Arkanil Islam karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hlm. 391)

     5.   Orang yang tidak ada uzur/halangan yang mencegahnya untuk menghadiri Jum’atan

Orang yang memiliki uzur, ada keringanan tidak menghadiri shalat Jum’at dan menggantinya dengan shalat zhuhur.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menerangkan, “(Kata) uzur sangat luas penjabarannya. Intinya adalah segala halangan yang mencegah seseorang menghadiri pelaksanaan Jum’atan. Bisa jadi, hal itu berupa sesuatu yang mengganggunya, misalnya ada kezaliman yang dikhawatirkannya, atau bisa menggugurkan suatu kewajiban yang tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya. Di antara uzur tersebut adalah (takut dari) penguasa zalim yang akan berbuat kezaliman, hujan deras yang terus-menerus, sakit yang mencegahnya, dan semisalnya. Termasuk uzur juga adalah seseorang yang mengurusi jenazah yang tidak ada yang mengurusinya selain dia, yang apabila dia tinggalkan, jenazah itu akan tersia-siakan dan rusak. (at-Tamhid 16/243-244)

         6.    Orang yang sakit

Dalilnya telah berlalu pada pembahasan orang yang tidak wajib Jum’atan. Sedangkan yang dimaksud dengan sakit yang diberi keringanan di sini adalah apabila si sakit menghadiri Jum’atan, ia akan menemui kesulitan yang nyata, bukan sekadar perkiraan. Maka dari itu, masuk pula dalam hal ini adalah seseorang yang terkena diare berat. (al-Majmu’, an- Nawawi, 4/352)

Di antara uzur yang membolehkan meninggalkan Jum’atan dan menggantinya dengan shalat zhuhur adalah seorang yang diberi tanggung jawab atas sebuah tugas yang berkaitan dengan keamanan umat dan kemaslahatannya. Dia dituntut untuk melaksanakan tugas tersebut di waktu

shalat Jum’at, seperti aparat keamanan, petugas pengatur lalu lintas, dan petugas operator telekomunikasi.

Demikian pula dokter piket (dokter jaga) di rumah sakit atau klinik kesehatan, yang jika ia meninggalkan tugasnya untuk shalat Jum’at diperkirakan akan berdampak pada lambannya penanganan terhadap pasien yang membutuhkan pertolongan segera sehingga bisa mengancam keselamatan pasien. (Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 8/189-192).

C.      Syarat shahnya shalat jum’at

Shalat jum’at memiliki syarat sebagaimana syarat shalat pada umumnya. Hanya kemudian ada syarat tambahan, yang mana masing-masing mazhab berbeda pendapat, menurut syafi’i dan Hanbali ada 7 tambahan, Maliki menambahkan 5 syarat lagi selain syarat shalat, sedangkan Hanafi hanya menambahkan 4 syarat. Berikut rinciannya.

           1.   Dikerjakan pada waktu Dzuhur

Jumhur ulama mazhab berpendapat bahwa shalat jum’at hanya sah bila dikerjakan pada waktu Dzuhur dan tidak sah dikerjakan pada waktu lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat sahabat Anas ra. Ia berkata, “Rasulullah Saw biasa shalat Jum’at setelah matahari condong.” (HR. Bukhari).

Pendapat inilah yang diikuti mayoritas ulama, tidak ada yang menyelisihi kecuali sebagian pengikut mazhab Hanbali.

Menurut imam Ahmad, bahwa shalat jum’at boleh dikerjakan pada waktu matahari tergelincir, tetapi awal waktunya adalah waktu bolehnya dilaksanakan shalat ‘id. Pendapat ini disesuaikan dengan perkataan Abdullah bin saidan.

          2.   Diawali Khutbah Jum’at

Ulama bersepakat bahwa shalat jum’at harus didahului oleh khutbah jum’at, shalat jum’at tidak shah tanpanya. Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt  :  “Maka bersegeralah kamu mengingat Allah.” (Al Jumu’ah:9).

Makna ‘mengingat’ pada ayat diatas adalah khutbah, karena Nabi Saw tidak pernah mengerjakan shalat jum’at kecuali berkhutbah sebelumnya.

       3.    Berjama’ah

Ulama telah bersepakat, bahwa shalat jum’at wajib dikerjakan secara berjama’ah. Tidak ada perbedaan pandangan dalam hal ini, namun, mereka berbeda pendapat tentang batas minimal jumlah jama’ah yang menghadirinya, berikut ini pendapat ulama mazhab mengenai hal ini:

              a.     Al-Hanafiyah

Pendapat yang paling shahih dari mazhab ini mengatakan bahwa jum’at sudah mencukupi dikerjakan dengan tiga orang selain imam.

Dalil yang digunakan yaitu bahwa tidak ada nash dalam Al-Quran Al-Karim yang mengharuskan jumlah tertentu, tetapi hanya diisyaratkan dalam bentuk jama’. Dan dalam kaidah bahasa arab, jumlah minimal untuk bisa disebut jama’ adalah tiga orang, bahkan dua orang (isim tasniyah) sudah masuk kategori jama’.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu`ah : 9)

Kata kalian pada ayat diatas menurut mazhab hanafi tidak menunjukkan pada jumlah tertentu,  tetapi hanya bermakna jama’.

               b.     Al-Malikiyah

Al-Malikiyah menyaratkan bahwa sebuah shalat jumat itu baru sah bila dilakukan oleh minimal 12 orang untuk shalat dan khutbah.

Pendapat ini didasarkan pada riwayat yang disebutkan dalam surat Al-Jumu’ah yaitu peristiwa bubarnya sebagian peserta shalat jumat karena datangnya rombongan kafilah dagang yang baru pulang berniaga. Serta merta mereka meninggalkan Rasulullah Saw yang saat itu sedang berkhutbah sehingga yang tersisa hanya tinggal 12 orang saja.

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri. Katakanlah: `Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan`, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” ( Al-Jumu`ah : 11)

Oleh kalangan Al-Malikiyah, tersisanya 12 orang yang masih tetap berada dalam shaf shalat Jum`at itu itu dianggap sebagai syarat minimal jumlah peserta shalat Jumat.

                c.     Asy-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah

Kedua mazhab ini menyaratkan bahwa sebuah shalat jumat itu tidak sah kecuali dihadiri oleh minimal 40 orang yang ikut shalat dan khutbah dari awal sampai akhirnya.

Dalil yang digunakan adalah sebuah hadits dari Ibnu Mas`ud ra. bahwa Rasulullah Saw shalat Jum`at di Madinah dengan jumlah jama’ah 40 orang atau lebih. (HR. Ad-Daruquthuny).

   4.   Tidak boleh ada banyak pelaksanaan shalat jum’at disuatu daerah tanpa sebab tertentu

Diantara syarat sahnya jumat, mazhab Syafi’i menetapkan tidak bolehnya ada pelaksanaan shalat jum’at yang berbilang di suatu tempat, kecuali jika daerah itu sangat besar dan sulit untuk mengumpulkan jamaah di satu tempat.

Adapun dalil dari syarat ini, yaitu Rasulullah SAW, para sahabat, Khulafa Rasyidin, dan para tabi’in tidak pernah melakukan shalat jumat kecuali satu shalat jumat saja dalam satu daerah. Karena, dengan membatasi pada satu pelaksanaan saja diperkirakan akan mencapai tujuan utama, yaitu menampakan simbol-simbol persatuan dan persamaan opini. Demikian pula hal yang sama ditetapkan oleh kalangan mazhab Hanbali.

Demikian pula dengan mazhab Maliki, mereka menetapkan, bila shalat jumat dikerjakan berbilang, maka masjid yang mengerjakan shalat jumat yang pertama itulah yang sah, sedangkan yang lain diwajibkan shalat dzuhur bagi semua jamaah.

Intinya, pendapat mayoritas ulama (mahab Maliki yang termasyhur, lalu mazhab Syafi’i dan Hambali), melarang pelaksanaan shalat jumat secara berbilang kecuali kedaruratan.

Adapun mazhab Hanafi, memiliki pendapat dan fatwanya sendiri mereka mengatakan, boleh melaksanakan shalat jumat lebih dari satu shalat jumat dalam sebuah kota dibeberapa tempat untuk menghindari kesulitan yang terjadi. Karena, dengan mengharuskan shalat jumat bersatu disatu tempat jelas akan menyulitkan, disebabkan jauhnya jarak bagi sebagian besar jamaahnya. Kemudian tidak ditemukan dalil-dalil yang melarang untuk membagi-bagi pelaksanaan shalat jumat dan tidak pula disebutkan kondisi yang mendesak atau alasan kebutuhan yang dapat mencegah terjadinya pelaksanaan salat jumat secara berbilang, apalagi dikota-kota besar.

Berkata Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, “Kesimpulannya, suatu daerah/ kota yang sangat luas, jika menyulitkan penduduknya untuk berkumpul di satu masjid, dan itu boleh jadi karena berjauhannya tempat tinggal mereka atau sempitnya masjid (yang ada) –seperti di Baghdad, Ashbahan, dan kota lain yang luas– maka boleh shalat Jumat didirikan di beberapa masjid kalau dibutuhkan.”

Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya tentang masalah ini, kemudian Al-Lajnah menjawab : “Apabila keadaannya lokasi yang jauh, maka tidak berkewajiban shalat jum’at, dan kewajibannya hanyalah shalat dhuhur, akan tetapi yang lebih baik adalah berusaha mencari pekerjaan yang dekat dengan bangunan-bangunan supaya dekat dengan masjid, dan bisa menunaikan shalat jumat dan jama’ah bersama kaum muslimin di masjid-masjid, mendengarkan nasehat-nasehat, serta mempelajari perkara-perkara agama yang kamu butuhkan.”

Dalam pandangan ulama kontemporer, diantaranya Syaikh Wahbah Zuhaili, Yusuf al Qaradhawi, dan sebagian besar ulama Azhar, pendapat terakhir dari Hanafi inilah yang dipandang paling kuat.

        5.    Izin Penguasa

Mazhab Hanafi mensyaratkan bahwa shalat jum’at yang ditegakkan disuatu tempat harus atas izin penguasa. Hal ini karena pelaksanaan shalat jumat itu dihadiri kaum muslimin dalam jumlah besar, yang mana masing-masing tentu memiliki pendapat-pendapat yang saling berbeda satu sama lain, dan hal ini hanya bisa disatukan dengan adanya keputusan penguasa.

Tetapi Jumhur ulama mazhab menolak pendapat ini, karena dalam riwayat telah jelas disebutkan, Ali bin Abi Thalib ra.  Pernah mengimami shalat sedangkan khalifah Utsman bin Affan ketika itu masih ada (dalam kondisi terkepung).

Dan hal tersebut dibenarkan oleh sayidina Utsman.

       6.    Perkampungan

Pendapat mazhab Hanafi, juga pendapat Atha’, Ibnul Mubarak, dan lainnya, menyatakan  boleh didirikan shalat Jumat lebih dari satu masjid walaupun dalam satu daerah/ kota, jika memang dibutuhkan, seperti karena luasnya daerah tersebut (sehingga manusia kesulitan menghadiri shalat Jumat di satu tempat), jauhnya masjid dari rumah-rumah mereka, sempitnya masjid, atau takut fitnah.

Sedangkan menurut Maliki, shalat jum’at tetap wajib atas penduduk dusun, dan dikerjakan di masjid jami’ tempat tersebut. Namun, tidak boleh dikerjakan ditengah penduduk yang bangunan rumahnya dari kain, karena kemungkinan penduduknya suka melakukan perjalanan.

Sedangkan mazhab syafi’i menetapkan masyarakat dusun tetap wajib jum’at sedangkan masyarakat yang berada di padang pasir (tempat kerja) meskipun memiliki bangunan dari kayu, tiada kewajiban jum’at. Pendapat yang serupa juga di tetapkan oleh Hanabilah.

Intinya, shalat jumat menurut mayoritas ulama harus ditegakkan di kota atau sebuah kampung.

 D.      Waktu Shalat Jum’at

Mayoritas ulama berpendapat bahwa waktu shalat Jum’at sama dengan waktu shalat zhuhur, yaitu dari tergelincirnya matahari hingga masuknya waktu ashar. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Jum’at ketika matahari telah condong (ke barat). (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 904).

Disebutkan juga dalam hadits Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu kami shalat Jum’at bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika matahari telah tergelincir.” (Shahih Muslim, “Kitab al-Jumu’ah”).

Demikian pula diriwayatkan dari Umar, Ali, an-Nu’man bin Basyir, dan ‘Amr bin Huraits radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka shalat Jum’at setelah tergelincirnya matahari. (Fathul Bari 2/387).

Namun, ada pendapat yang menyatakan bolehnya shalat Jum’at sebelum tergelincirnya matahari, seperti pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah dan selainnya. Landasan pendapat ini adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صل الله عليه وسلم يُصَلِّي الْجُمُعَةَ ثُمَّ نَذْهَبُ إلَى جِمَالِنَا فَنُرِيْحُهَا حِيْنَ تَزُوْلُ الشَّمْسُ

“Adalah Rasulullah shalat Jum’at kemudian kami pergi menuju unta-unta (pembawa air) kami, lalu kami mengistirahatkannya ketika tergelincirnya matahari.” (HR. Muslim dalam “Kitabul Jumu’ah”).

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Jum’at sebelum tergelincirnya matahari, karena para sahabat mengistirahatkan unta-unta pembawa air mereka setelah Jum’atan di saat matahari tergelincir. Dengan demikian, tentu pelaksanaan shalat Jum’at terjadi sebelumnya.

Telah dinukil dari sebagian salaf (yakni sahabat Nabi) tentang pelaksanaan shalat Jum’at sebelum tergelincirnya matahari.

Di antaranya adalah atsar Bilal al-‘Absi bahwa ‘Ammar (bin Yasir) radhiyallahu ‘anhuma shalat Jum’at mengimami manusia. Para jamaah waktu itu (pendapatnya) menjadi dua kelompok. Sekelompok mengatakan (bahwa shalatnya) sesudah matahari tergelincir dan sekelompok yang lain mengatakan sebelum tergelincir.

Demikian pula atsar dari Abu Razin. Dia berkata, “Dahulu kami shalat Jum’at bersama Ali (bin Abi Thalib). Terkadang kami telah mendapati adanya bayangan dan terkadang kami belum mendapatinya.” (Kedua atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Ajwibah an-Nafi’ah hlm. 25)

Tentang hadits-hadits yang menyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Jum’at setelah tergelincirnya matahari, pendapat ini menjawab bahwa hal itu tidak menafikan bolehnya shalat Jum’at sebelumnya. (Nailul Authar 3/310).

Kesimpulannya, shalat Jum’at sebelum/menjelang tergelincirnya matahari itu boleh sebagaimana jika dilakukan setelah tergelincirnya matahari. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh asy-Syaikh al-Albani (seperti dalam al-Ajwibah an-Nafi’ah hlm. 25).

 E.       Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Jum’atan

Melaksanakan shalat Jum’at adalah syiar orang-orang saleh, sedangkan meninggalkannya adalah pertanda kefasikan dan kemunafikan yang mengantarkan pada kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتَمِنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ

Hendaknya orang-orang berhenti meninggalkan Jum’atan, atau (kalau tidak) Allah Subhanahu wata’ala akan menutup hati-hati mereka, kemudian tentu mereka akan menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, “Kitabul Jumu’ah”, dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma)

Apabila seseorang ditutup hatinya, dia akan lalai melakukan amalan yang bermanfaat dan lalai meninggalkan hal yang memudaratkan (membahayakan).

Hadits ini termasuk ancaman yang keras terhadap orang yang meninggalkan dan meremehkan Jum’atan. Juga menunjukkan bahwa meninggalkannya adalah faktor utama seseorang akan diabaikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (lihat Subulus Salam 2/45)

Ancaman tersebut terarah kepada yang meninggalkan Jum’atan tanpa uzur. Al-Imam ath-Thabarani rahimahullah meriwayatkandalam al-Mu’jam al-Kabir dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa meninggalkan 3 Jum’atan tanpa uzur, dia ditulis sebagai golongan munafikin.” (Shahih at-Targhib no. 728)

MARAJI’ (DAFTAR PUSTAKA)

 

  1. Al Fiqh ‘ala Mazhab al ‘Arba’ah, Syaikh ‘Abdurrahman al Jaziri,  Darul Fikr : Beirut, 1422 H, cetakan pertama.
  2. Al Mausu’ah Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, Wazirah al Auqaf  wa Assyu,un al Islamiyah: Kuwait, 1412 H, cetakan pertama.
  3. Al Minhaj, al Maktabah Syamilah.
  4. Al Mughni, al Imam Ibn Qudamah, al Maktabah Syamilah
  5. Al Quran al Karim.
  6. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibn Rusyd, Darul Kutub  al ‘Ilmiyah : Beirut, 1428 H,cetakan ke empat.
  7. Bulughul Maram, al Hafidz Ibnu Hajar al asqalani, Dar al Kutub al Ilmiyah : Beirut. 1428 H. Cetakan kedua.
  8. Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah , al Maktabah Syamilah.
  9. Fath al bari, Al Hafidz Ibn Hajar al Asqalani, Dar al Kutub al Ilmiyah : Beirut,1424 H. Cetakan ke empat.
  10. Fiqh al Islami Wa Adilatuhu, Syaikh Wahbah Zuhaili,  Darul Fikr : Beirut, 1429 H, Cetakan ke enam.
  11. Fiqh al Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq, Darr Ibn Katsir : Beirut, 1428 H, cetakan ke dua.
  12. Majmu’ al Fatawa, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, al Maktabah Taufiqiyyah : Mesir. Tanpa Tahun.
  13. Nailul Authar, imam As Syaukani, al maktabah Syamilah.
  14. Shahih Bukhari, Imam al Bukhari, Rihlan : Indonesia.
  15. Sunan Ibn Majah, Ibnu Majah,  Maktabah al ma’arif : Riyad,1429 H KSA.
  16. Sunan An Nasa’i, An Nasa’i, Maktabah al Ma’arif : Riyadh, 1429 H, cetakan kedua.
  17. Sunan At Tirmidzi, At Tirmidzi, Dar Ibn al Jauzi ; Kairo,1432 H , cetakan pertama.
  18. Sunan Abu Dawwud, Abu Dawwud, Dar Ibn al Jauzi : Kairo, 1432 H, cetakan pertama.
  19. Subulus Salam, al Imam as Shan’ani, Dar al Kutub al Ilmiyah : Beirut. 1424 H. Cetakan kedua.
  20. Syarah as Shagir; Al mausu’ah Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah; Ad Dasuqiy.

Tentang SAMSUL HUDA

Kata orang saya adalah orang yang bodo dan bikin jengkel orang yang dekat dengan saya. Sekarang pun saya masih menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya sudah mendapatkan gelar sarjana muda. Itu bukti bahwa mungkin apa yang dikatakakn orang itu benar tentang saya.
Pos ini dipublikasikan di BUDAYA, ISLAM, SOSIAL dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s