MAKNA LAILATUL QADAR


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala yang kita butuhkan selama hidup, sehingga kita masih bisa merasakan hawa kehidupan di dunia sampai sekarang. Bahkan masih bisa menikmati kemuliaan bulan Ramadhan dimana pada bulan tersebut terdapat banyak kemuliaan dan barokah, diantaranya yaitu diberikannya malam yang lebih baik dari seribu bulan atau malam lailatul Qadar.
Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada nabi besar Muhammad yang telah menebarkan panji-panji kebenaran berupa tuntunan yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan sang Pencipta Alam semesta yaitu agama yang hak, agama islam. Semoga kita semua mendapatkan syafaat dihari kebangkitan dengan kehendak Allah.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ -١- وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ -٢- لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ -٣- تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ -٤- سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ -٥-
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (3) Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhan-nya untuk mengatur semua urusan. (4) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (5). (Q.S. al-Qadr: 1-5).
Pada ayat diatas Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menurunkan al-Quran pada waktu Lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang penuh dengan keberkahan, yang oleh Allah Ta’ala difirmankan (إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ). Dan itulah malam yang jatuh pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang difirmankan Allah (وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ -٢- لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ). Ketika malam kemuliaan itu menyerupai ibadah selama seribu bulan.
Pada fasal ini para ulama mempunyai perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu terdapat pada umat-umat terdahulu ataukah ia merupakan keistimewaan bagi umat setelahnya (setelah al-Quran diturnkan sampai hari kiamat kelak)? Yang pertama, disapaikan oleh Abu Mush’ab Ahmad nid Abi Bakar az-Zuhri yang mengatakan: Malik memberi tahu kami bahwa sanya pernah disampaikan kepadanya bahwa Rasulullah pernah diperlihatkan kepada beliau umur-umur manusia sebelumnya atau apasaja yang dikehendaki Allah mengenai hal tersebut, seakan-akan umur umat Muhammad terlalu pendek untuk bisa mencapai amal yang telah icapai oleh umat sebelumnya, karena umat sebelumnya mempunyai umur yang panjang. Kemudian Allah memberikan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bula. Dan yang pada yang demikian oleh Malik masih memerlukan pengkhususan umat ini pada Lailatul Qadar tersebut. Dan telah dinukil oleh imam penganut faham asy-Syafii dari Jumhur Ulama. Diriwayatkan juga oleh al-Khuthabi yang meriwayatkan ijma padanya dan dinukil oleh ar-Radhi secara tegas dari pendapat tersebut. Dan yang ditunjukkan oleh hadits, bahwa Lailatul Qadar itu juga terdapat pada umat-umat terdahulu seperti umat kita sekarang.
Sedangkan pada firman Allah (تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ), menunjukkan pada malam itu, malaikat akan turun karena banyaknya keberkahan yang dibawanya untuk orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah, sebagaimana orang yang merelakan untuk melakukan ibadah malam, ketika malaikat itu turun, dia sangat senang seperti kesenangannya ketika al-Quran itu dibacakan. Setelah sampai pada tujuannya, malaikat mengelilingi halaqah-halaqah dzikir (majlis ilmu) dan meletakkan sayap mereka bagi pencari ilmu dengan penuh kejujuran, sebagai bentuk penghormatan terhadapnya.
Pada firman Alla yang berbunyi (مِنْ كُلِّ أَمْرٍ), para mujahid berpendapat: malam kesejahteraan untuk mengatur semua urusan. Sedangkan Sa’id Ibn Yunus memberi tahu kami al-A’masy memberi tahu kami, dari mujahid, mengenai ayat Allah (سَلَامٌ), dia mengatakan: ia aman, dimana pada waktku itu setan tidak akan dapat melakukan kejahatan atau melancarkan gangguan. Sedangkan Qatadah dan yang lainnya mengatakan: pada waktu itu semua urusan diputuskan, berbagai ajal dan rizki juga di tetapkan, sebagaimana yang telah difirmankan Allah pada ayat (فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ) “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (Q.S. ad-Dukhaan: 4).
Kemudian pada fasal kedua beberapa ulama yang lain berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu terdaat pada malam kedua puluh satu. Yang didasarkan pada hadits Abu Sa’id al-Khudri, beliau mengatakan Rasulullah pernah beri’itikaf pada sepuluh pertama dari bulan Ramadhan. Dan kami juga pernah beri’itikaf bersama beliau, kemudian Jibril mendatangi beliau seraya berkata: Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah berada didepanmu. Oleh karena itu beri’tikaflah pada sepuluh pertengahan pada bulan Ramadhan. Maka kami beri’tiaf bersama beliau. Lalu Jibril mendatangi beliau kembali dan berkata: sesungguhnya apa yang engkau minta sudah ada didepanmu. Kemudian Rasul berdiri untuk menyampaikan khutbah pada pagi hari ke duapuluh dari bulan Ramadhan seraya berucap: barang siapa yang beri’tikaf bersamaku maka hendaknya ia pulang kembali, karena sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadar. Dan sesungguhnya aku melupakannya, dan sesungguhnya Lailatul Qadar ada pada sepuluh terakhir pada malam ganjil. Dan aku melihat seakan-akan aku bersujud di tanah dan air. Dan pada waktu itu atap masjid masih berupa pelepah kurma dan kami tidak bisa melihat sesuatu di langit. Lalu Lailatul Qadar itu datang secara tiba-tiba sehingga hujan turun menyiram kami. Selanjutnya, Nabi mengerjakan shalat bersama kami sehingga aku melihat bekas tanah dan air pada dahi Rasul sebagai bentuk pembenaran dari mimpi beliau. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah bersabda:
اِلْتِمَسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فِي تَاسِعَةِ تَبْقَى فِي سَابِعَةِ تَبْقَى فِي خَامِسَةِ تَبْقَى
Artinya: carilah Lailatul Qadar pada sepuluh terakhir di bulaln Ramadhan, pada sembilan hari yang tersisa, pada tujuh hari yang tersisa, dan pada lima hari yang tersisa.
Dari hadits tersebut banyak yang menafsirkan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh hari malam-malam terakhir pada hari ganjil. Ada pula yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam-malan genap, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id di dalam kitab Shahihnya, bahwa dia membawanya pada pemaknaan tersebut.
Fasal yang ketiga ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam kedua puluh tujuh. Hal tesebut didasarkan pada hadits Imam Muslim di dalam Shahihnya dari Ubay Ibn Ka’ab, dari Rasulullah bahwa sanya ia adalah malam kedua puluh tujuh. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada hari kedua puluh sembilan. Imam Ahmad Ibn Hambal meriwayatkan dari Ubadah Ibn ash-Shamit bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullalh mengenai Lailatul Qadar, lalu Rasulullah bersabda:
فِي رَمَضَانَ فَالْتَمِسُوْهَا فِي الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهَا فِي وِتْرٍ وَإِحْدَى وَعِشْرِيْنَ أَوْثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ إَوْخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ أَوْسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ أَوْتِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ
Artinya: pada bulan Ramadhan, carilah ia (Lailatul Qadar) pada mala sepuluh terakhir, karena ia ada didalam hari ganjil; malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau malam kedua puluh lima, atau malam kedua puluh tujuh ganjil, atau malam kedua puluh sembilan atau pada malalm terakhir (malam hari pada bulan Ramadhan).
Mengenai perbedaan fasal diatas Imam asy-Syafii mengatakan: pernah terlontar jawaban dari Nabi ketika salah seorang sahabat bertanya kepada beliau, apakah kami harus mencari malam Lailatul Qadar pada malam tertentu? Beliau Nabi Muhammad menjawab: benar. Sesungguhnya Lailatul Qadar itu merupakan malam tertentu yang tidak berpindah-pindah. Hadits ini dinukil oleh al-Tirmidzi yang sekaligus pengertiannya. Dan diriwayatkan oleh Abu Qilabah bahwasanya ia pernah berkata, Lailatul Qadar itu berpindah-pindah pada sepuluh mala terakhir. Hadits ini kemudian dinashkan oleh Imam Malik, ats-Tsauri, Ahmad Ibn Hambal, Ishaq Ibn Qahawaih, Abu Tsaur, al-Muzani, Abu Bakar Ibn Khuzaimah, dll. Hadits lain yang diriwayatkan dari asy-Syafii yang dinukil oleh al-Qadhi. Dan inilah yang mendekati kebenaran dari hadits yang telah diriwayatkan.
Pendapat yang paling benar tersebut disandarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abdillah Ibn Umar dalam kitab Shahihain, bahwasanya ada beberapa orang sahabat diperlihatkan Lailatul Qadar melalui mimpi pada malam kedua puluh tujuh dari bula Ramadhan. Lalu beliau bersabda:
أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْتَوَطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرَّيْهَا فَلْيَتَحَرِّهَا فِيْ السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
Artinya: aku melihat mimpi kalian itu telah terjadi pada malam ketujuh terakhir, oleh karena itu, barang siapa yang ingin memperolehnya, maka hendaklah dia mengerjakan pada tujuh malam terakhir.

Amalan-amalan pada malam Lailatul Qadar
Disunahkan untuk memperbanyak doa di sepanjang waktu di bulan Ramadhan seperti yang di lakukan oleh Aisyah yang bertanya kepada Nabi Muhammad, yaitu dengan membaca doa sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّى
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf yang menyukai maaf, karenanya berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Imam Ahmad dari Abdullah Ibn Buraidah).
Selain itu hadits diatas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah serta al-Hakim didalam Mustadraknya.
Ditegaskan pula pada kitab ash-Shahihaini karangan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang bangun untuk mendirikan shalat pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan akan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Hurairah).
Diantara amalan-amalan tersebut adalah
1. Mandi pada permulaan malam Lailatul Qadar, yaitu pada hari ke 19, 21, 23, 25, 27, dan 29 (apabila bulan Ramadhan di genapkan menjadi 30 hari). Dianjurkan mendai sebanyak dua kali, pada awal dan akhir malam Lailatul Qadar.
2. Bertawasul dengan membaca al-Quran dan membaca doa sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ بِكِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ وَمَافِيْهِ, وَفِيْهِ اِسْمُكَ الْأَكْبَرُ وَأَسْمَاؤُكَ الْحُسْنَى وَمَا يَخَافُ وَيُرْجَى, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ وَاَنْ تَجْعَلْنِي مِنْ عُنَقَائِكَ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepadamu dengan bertawasul kepada kitab-Mu yang diturunkan dan pada apa-apa yang ada didalamnya. Di dalamnya ada nama-Mu yang agung dan asmaul husna, dan apa yang ditakutkan dan diharapkan. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan ahli Muhammad. Dan jadikan aku di antara orang yang engkau bebaskan dari api neraka.”
3. Shalat sebanyak yang kita mampu dengan membaca surat al-Ikhlas setelah membaca fatihah.
4. Memperbanyak doa sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ اِنِّى اَمْسَيْتُ لَكَ عَبْدًا دَاخِرًا, لَااَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَاضَرًّا, وَلَااَصْرِفُ عَنْهَا سُوْءًا, اَشْهَدُ بِذَالِكَ عَلَى نَفْسِيْ وَاَعْتَرِفُ لَكَ بِضَعْفِ قُوَّتِيْ وَقِلَّةِ حِيْلَتِيْ, فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ وَانْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِيْ, وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنَ الْمَغْفِرَةِ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ, وَاَتْمِمْ عَلَيَّ مَا اَتَيْتَنِيْ فَاِنِّي عَبْدُكَ الْمِسْكِيْنُ الضَّعِيْفُ الْفَقِيْرُ الْمُهِيْنُ. اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِيْ نَاسِيًا لِذِكْرِكَ فِيْمَا اَوْلَيْتَنِيْ, وَلَا لِاِحْسَانِكَ فِيْمَا اَعْطَيْتَنِيْ, وَلَا اَيِسًا مِنْ اِجَابَتِكَ وَاِنْ اَبْطَأْتَ عَنِّيْ فِي سَرَّاءِ اَوْ شِدَّةٍ اَوْ رَخَاءٍ اَوْ عَافِيَةٍ اَوْ بَلَاءٍ اَوْ بُؤْسٍ اَوْ نَعْمَاءٍ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ
Artinya: “Ya Allah, malam ini aku menjadi hamba-Mu yang hina dina. Aku tidak mampu mendatangkan manfaat dan madharat kepada diriku. Aku tidak mampu memalingkan keburukan dariku. Aku saksikan semua pada diriku. Aku mengakui kelemahan dayaku dan kekurangan tenagaku. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Berikanlah ampunan kepadaku seperti yang telah engaku janjikan kepadaku dan seluruh kaum mukminin dan mukminat. Pada malam ini sempurnakanlah apa yang telah Engkau anugerahkan kepadaku karena aku adalah hamba-Mu yang miskin, berkekurangan, lemah,fakir, dan penuh kehinaan. Ya Allah, jangan jadikan aku orang yang lupa untuk mengingat Engkau pada apa yang telah engaku perintahkan kepadaku. Dan jangan aku lupap pada kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku. Jangan jadikan aku putus asa akan ijabah-Mu. Walaupun ijabah itu terlambat datang kepadaku; dalam suka dan duka, dalam keburukan atau kebaikan. Sesungguhya Engkau Mahamendengar doa.”
5. Menghidupkan malam, yaitu dengan tidak tidur (i’tikaf) atau mengisi waktu dengan berbagai macam ibadah. Ibadah shalat, zikir atau membaca shalawat atas Nabi Muhammad.
6. Membaca doa malam Qadar sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ امْدُدْ لِيْ فِي عُمُرِيْ وَاَوْسِعْلِيْ فِي رِزْقِيْ وَاَصِحَّ لِيْ جِسْمِيْ وَبَلِّغْنِي اَمَلِيْ, وَاِنْ كُنْتُ مِنَ الْاَ شْقِيَاءِ فَامْحُنِيْ مِنَ الْاَ شْقِيَاءِ وَاكْتُبْنِيْ مِنَ السُّعَدَاءِ فَاِنَّكَ قُلْتُ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلٍ صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَاَلِهِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَابِ.
Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah usiaku, luaskanlah rizkiku, sehatkanlah tubuhku, dan sampaikanlah aku pada harapanku. Jika aku sudah termasuk pada kelompok orang yang celaka, hapuskanlah namaku dari kelompok itu dan tuliskan aku termasuk kelompok yang bahagia. Karena Engkau berfirman di dalam kitab-Mu yang dturunkan kepada Nabi-Mu sang utusah. Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkakn apa yang Dia kehendaki dan pada sisi Dia ada Ummul Kitab.”
7. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saw.

Keutamaan Lailatul Qadar
1. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan
Keutamaan pertama ini sudah dijelaskan oleh Allah pada surat al-Qadar: 3 (لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ) yang mana karena keberkahan yang diberikan oleh Allah pada malam Lailatul Qadar menjadikan malam tersebut menjadi malam yang lebih baik dari pada malam seribu bulan. Apabila dihitung, maka sama dengan 30 tahun lebih 6 bulan. Hal ini berarti bahwa apabila seorang hamba menjalankan amalan-amalan pada malam tersebut dengan sungguh-sungguh dan penuh ketaatan kepada Allah, maka secara kualitas, seorang hamba tersebut sudah mendapatkan Lailatul Qadar yang kualitasnya pun lebih baik dari malam-malam selainnya. Tapi semua itu tidak berarti orang yang sudah mengamalkan semua amalan di malam Lailatul Qadar bisa mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar. Karena semua itu merupakan hak mutlak Allah yang Mahaberkehendak.
2. Pada malam Lailatul Qadar, para malaikat dan malaikat Jibril turun ke bumi
Pada malam tersebut juga Allah menurunkan pada malaikatnya seperti yang difirmankan Allah pada surat al-Qadar: 4 (تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ), pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu para malaikat akan turun dengan membawa keberkahan kepada orang-orang yang beriman yang dihendaki Allah.
Seperti yang terjadi pada orang-orang beriman dan nabi-nabi sebelumnya. Seperti beberapa keterangan sebagai berikut:

  • Malaikat yang turun kepada nabi Zakaria dengan membawa kabar bahwa Nabi Zakaria akan memiliki anak seperti yang difirmankan pada surat Ali Imran: 39.
  • Malaikat turun kepada Maryam dan memberikan kabar bahwa Maryam akan memiliki seorang putera. Firman Allah surat Ali Imran: 45.
  • Malaikat datang kepada Nabi Ibrahim dan memberikan kabar gembira bahwa beliau akan melahirkan seorang putra. Firman Allah surat Hud: 69.
  • Malaikat turun kepada para nabi dengan membawa wahyu, seperti firman Allah surat an-Nahl: 2. Dll.

3. Berkah yang berada mada malam Lailatul Qadar berlangsung hingga terbit fajar
Keutamaan ini terdapat pada firman Allah surat al-Qadar: 5 (سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ), malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. Hal ini telah dijelaskan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang sudah dijelaskan diatas. Said Ibn al-Musayyab berkata: barang siapa shalat isya pada malam Lailatul Qadar , berarti ia telah mendapatkannya.
Keberkahan yang terbentang semalaman itu merupakan kekuasaan Allah dan keluasan-Nya. Hal ini dikarenakan Allah menghendaki orang-orang yang beriman mendapatkan malam yang penuh keberkahan tersebut.
4. Segala dosa yang telah dilakukan orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan diampuni oleh Allah.
Keberkahan ini senada dengan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)
5. Pada saat malam Lailatul Qadar dijelaskan segala hal urusan yang penuh hikmah.
Mungkin hanya ini yang dapat disampaikan, apabila ada kekurangan atau kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, mohon dimaafkan. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallahu a’lam bissowab.

Tentang SAMSUL HUDA

Kata orang saya adalah orang yang bodo dan bikin jengkel orang yang dekat dengan saya. Sekarang pun saya masih menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya sudah mendapatkan gelar sarjana muda. Itu bukti bahwa mungkin apa yang dikatakakn orang itu benar tentang saya.
Pos ini dipublikasikan di CORETAN TINTA, ISLAM, PENDIDIKAN dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s