PRINSIP PEMBINAAN MORAL KARAKTER


Sesungguhnya pembinaan moral pada usia apapun merupakan pembinaan kerakter (tahzib al-akhlak). Para filosof mengemukakan bahwa antara karakter dan tabiat
Itu berbeda. Karakter dapat dirubah sedangkan tabiat tidak dapat dirubah. Karena karakter tersebut dapat dirubah, maka bagaimana cara seorang pendidik memfungsikan lingkungan tersebut secara baik dan efektif?
Untuk menjawab pertayaan tersebut maka kita perlu membicarakan dua masalah yang penting.
1. Apa dasar sifat karakter serang manusia, dan apa daya utama yang membentuk manusia.
2. Harus jelas pada diri kita apa maksud dari pendidikan moral yang hendak kita capai, dan bagaimana upaya atau cara untuk mencapai maksud tersebut.
Karakter dan daya-daya jiwa.
Telah dinatakan diatas bahwa, karakter itu berbeda dengan tabiat yang berubah terhadap lingkungan. Seperti yang dikemukakan oleh Jhon locke (tabularasa) yang mendasarkan teori pendidikannya pada filsafat empirisme. Mereka mengakui bahwa manusia mempunyai bakat yang mereka sebut dengan natural dipotition (jibillah) tetapi mereka juga percaya bahwa jibillah ini bisa dipengaruhi lingkungan pendidikan.
Karakter merupakan kumpulan sifat-sifat tertentu (baik/buruk) yang telah berakar kuat pada diri seseorang, sehingga secara otomasis dan tanpa pemikiran yang oanjang akan mengekspresikan sifat terrsebut sebagai peewatakannya.
Menurut Ibn Misskawayh mendefinisikan karekter sebagai keadaan jiwa yang menyebabkan manusia bertindak tanpa dipikirkan atau dipertimbangkan secara mendalam. Sedangkan sefat-sifat yyang membentuk karakter bersumber pada tiga daya jiwa yang disebut nafs.
1. Nafsu syahwat
Meliputi malu, tenang, dermawan, kona’ah, dan lainnya.
2. Nafsu amarah
Meliputi sabar, tegar, berani, tenang, dan tabah dll.
3. Nafsu rasional
maliputi bijaksana, pandai, kuat ingatan, dapat berfikir jernih,
Sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang baik yang muncul dari tiga daya tersbut yaitu ketika manusia mencapai titik keseimbangan dalam jiwa ruhani maupun jawadnya.
Tujuuan pendidikan moral
Al-Ghozali menerangkan (riwayat annafa) mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencapai kebahagiaan di dunia dan diakhirat yaitu ketika manusia mengetahui eksistensi dia sebagai makhluk ciptaan.
Sedangkan menurut Nasi al-Din al-Thusimenemukakan bahwa setiap manusia mempunyai tujuannya sendiri-sendiri, seperti kesempurnaan pandang pada ketajamannya, kuda pada ketangkasannya, dan manusia pada akalnya.
Dari pernyataan di atas bahwa tujuan dari pendidikan moral adalahkebahagiaan. Maka bagaimana cara mencapai kebahagiaan tersebut? Setiap manusi dengan kesempurnaannya ditentukan dengan akalnya (nasionalitas) yang telajh menjadi identitas dan menjadi landasan manusia. Tapi bukan Cuma akal yang rasional tetapi harus memiliki sikap yang rasional.
Dari yang sudah disampaikan diatas, maka menimbulkan pertanyaan bagaimana kaitan pendidikan moral dengan kebahagiaan? Manusia bisa merealisir kebaikan yang berada dalam dirinya yakni ketika mereka mampu mencapai tujuan pendidikan akhlak seperti yang disampaukan oleh Ibn Miskawayh “menghasilkan moral untuk diri kita yang menjadi sumber kebaikan yang seluruhnya indah dan dengan bersamaan dapat dilakukan secara mudah. Karena ketikan akhlak mencapai kebahagiaan maka manusia yang sejati akan dirasakan.
Nah kalau sudah mengetahui tujuan pendidikan moral tersebut, maka akan timbul pertanyaan bagaimana cara mencapainya? Seperti yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad yaitu tujuan pendidikan moral adalah dengan melakukan akhlakul karim yang bersumber pada tiga daya pada manusia.
Kalau ketiga daya tersebut dikendalikan akal dengan baik, maka akan muncul sifat-sifat terpuji yang disebut keutamaan moral.
Pendidikan moral remaja
Belajar diwaktu muda itu lebih efektif dari pada belajar di waktu tua. Seperti pepatah mengatakan “belajar di yaktu muda seperti mengukir diatas batu, tetapi belajar sesudah dewasa ibarat mengukir diatas air”. Seperti halnya socrates ketika ditanya mengapa dia selalu mendekati anak-anak remaja, ia menjawab karena mendidik para remaja lebih efektif ketimbang orang dewasa.
Pada usia remaja dimana pertumbuhan fisik dan psikis menglami perkembangan yang sangat pesat, yang disana terdapat daya-daya yang mendorong untuk melakukan hal-hal yang diluar kendali. Daya rasionalitas pada diri remaja pada umumnya belum mencapai tingkat kematangan sehingga memerlukan pengawasan, bimbingan, perhatian dari guru maupun oleh orang tua.
Pembinaan daya rasional juga tergantung dengan daya yang dipelajarai nya yang tergantung dengan tempat dan lingkungan.

Tentang SAMSUL HUDA

Kata orang saya adalah orang yang bodo dan bikin jengkel orang yang dekat dengan saya. Sekarang pun saya masih menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya sudah mendapatkan gelar sarjana muda. Itu bukti bahwa mungkin apa yang dikatakakn orang itu benar tentang saya.
Pos ini dipublikasikan di PENDIDIKAN. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s