KEBERANIAN DALAM BERFIKIR


Ada arti tersembunyi dibalik kenyataan. Semua diatur melalui skema. Bahkan kepingan debu yang berada di setiap halam buku termasuk dalam angka numeric dalam setrukktur. Tapi siapa yang bisa memprediksi badai dan beliung? Apakah setruktur angka alam? Kkarena angina bermuara.

Einstein dalam keadaan mabuk ketika mengatakan “kebenaran itu relative”.sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa “tidak ada kebenaran” yang ada hanyalah penguatan identitas diri untuk bisa dihargai orang yang berada di sekelilingnya. Orang akan benar-benar tahu jika terhina. Orang akan benar-benar lupa jika alpha terfonya.

Petikan tulisan tersebut mungkin bisa mengawali anda untuk berfikir dan memilih apakah anda menjadi pemberontak ataukah anda ingin menjadi orang yang aman-aman saja? Apakah anda berani dikata “orang sesat” kerena mencari kebenaran dalam diri anda, araukah anda mengubur dalam-dalam nurani anda yang telah lama meradang ingin mengetahui sesuatu? Apakah anda mempercayai sesuatu untuk percaya selama-lamanya? Ataukah untuk memahami kepercayaan tersebut? Credo ut untelligam (saya percaya agar saya paham).

Dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikannya. Yang banyak manusia berbeda pendapat tentang ini. Ada yang menyebutkan EL, Ely, Elohim, Allah, Yahweh, dan bahkan gudti kang Murbeing Dumadi. Semua memopunyai nuansa teologis atau kekuatan imani khusus dimata pemercayanya sehingga tidak bagi manusia untuk saling menyalahkan tntang apa yang dipercayai orang lain yang berbeda. Kepercayaan akan kekuatan pengendali ala mini diparcaya karena manusia merasa bahwa kekuatannya ternyata sangat kecil. Oleh karena itu manusia butuh sosok sentral sebagai tempat berlindung dalam hatinya. Jika melihat dari sisi tersebut, kepercayaan anda dengan saya adalah logis adanya.

Saya justru sangsi dengan Francis Bacon (1561-1626), seorang filsur pada zaman renaissance (pencerahan) yang mengatakan bahwa filsafat itu harus dipisahkan dari teologi. Kenapa harus dipisahkan? Kenapa takut untuk menalarkan Tuhan jika kita memang benar-benar ingin berfikir dan sangat membutuhkan adanya Tuhan?. Penalaran sesuatu itulah yang bersifat teologispun harus berani dinalarkan, demi kebenaran yang memuaskan dengan persepektif nurani kita.

Untung saja Rene Descarte (1596-1650) secara tidak langsung mengklarifikasikannya dengan kogito ergo sum (saya berfikir maka saya ada). Pernyataan in seolah mengemmbalikan kepercayaan manusia terhadap kedahsyatan rasio, sehinggaa pemikiran merupakan indikasi eksistensi setiap manusia. Jika anda berfikir dan menlarkan hal sekecil apapun, maka anda telah berfilsafat. Disitulah anda telah mempunyai ieksistensi atau bisa jadi disebut sebagai sel ideology anda.

Kita boleh berfikir dan menganalogikan Sesutu sekuat tenaga pikiran, hingga sampai kesebuah titik dimana ternyata pemikiran kita tidak ubahnya seperti kupu-kupu, atau namukyang kehidupannya tergerus oleh musim, tertahan oleh waktu yang sangat pendek. Ketika telah sampai ipada titik tersebut, kita akan merasakan adanya kekuatan yang lebih sahsyat daripada yang paling dahsyat. Disitulah waktunya seorang anak manusia berfikir tentang diri dan Tuhan. Jika begitu maka ibrahim atau abrahamlah yang yang lebih dulu berfilsafat daripada seorang filsuf manapun. Ia mengakui iketerbatasan fisiknya dengan dengan berjuang mencari yang lebih dahsyat. Ia tahu bulan, ternyata pagi menggerusnya. Ia melihat matahari, ternyata ternyata malam menenggelamkannya. Disitulah dia terkapar dan mengakui bahwa “ketiadaanlah” yang memuunculkan sebuah “ada”, sehingga “ketiadaan” tetap menjadi pemenangnya. Rasio memang harus mampu menyatu dengan non-rasio.

Akhirnya, menyatukannya adalah dengan mencoba menerapkan aliran empirisnya Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Kocke (1632-1704) yang berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Hal ini mengajak kita untuk mampu memadukan akal dan rasa kita. Akal memang sudah jelas dalam pendefinisikannya, tetapi rasa adalah tak terdevinisikan. Bahkan aliran aufklarung-nya Rene Descarte-pun disangsikan untuk mampu menafsirkannya.

Bagaimanakan seorang lelaki yang dengan naluri ingin memainkan gitarnya dengan tanpa mengetahuiteori bergitar mampu memetik senar dengan lebih harmonic, berpadu dengan musik lainnya daripada seorang pemain gitar yang telah lama kursus dengan berbagai teori. Bagaimanakan sesosok bayi yang setelah mengalami pergumulan lahiriah, keluar dari rahim ibunya dengan serta merta merasa butuh untuk menggapai payudra ibunya dan menghisapnya? Disinilah letak “rasa” yang harus terlibat dalam hidup kita.

Berfikir untuk berkarya

Banyak dari kita yang terbiasa untuk berfikir dan berfikir (tak bermuara), tanpa menuangkan pemikiran tersebut kedalam sebuah karya. Hal tersebut merupakan sebuah perilaku yang tidak totaliter. Generasi muda perlu mempunyai format atau pola untuk berfikir, sehingga nantinya ia mampu untuk mengarahkan diri secara alami dalam bentuk aktualisasi yang real. Oleh karena itu seseorang yang ingin maju harus mampu berfilsafat bukan ala pendahulu kita, tetapi berfilsafat dengan yang lebih kontemporer. Ikutii zaman ini dan taklukkan, sehingga kita masuk kedalam orang yang mewarnai zaman tersebut. Begitulah yang dilakukan oleh seorang pemikir pendahulu yang telah ada. Mereka berfikir untuk eksistensi dimasanya.

Jika dieranya Descarte mengatakan “saya berfikir, maka saya ada”, maka di era post-post modern ini akan lebis sesuai jika mengatakan “saya berfikir bagaimana menjadi ada”. Sedikit egosentric memang, tetapi begitulah kenyataannya. Bayaka generasi yang tidak berfikir kapan merekan akan menjadi ada, bahkan cita-cita saja tak punya. Sekolah dan kuliah hanya sebagai kebanggaan yang bersetatus tankpa berfikir bagaimana menjadikan apa yang telah dilakukannya sebagai manifestasi kehidupan masa yang akan dating.

Filsafat bukanlah sebagai landasan untuk berdebat yang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sehingga memberikan dampak untuk tidak melakukan aktifitas yang semestinya dilakukan. Filsafat adalah ketika anda berfikir tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang anda hadapi atau bahkan menyelesaikan masalah orang sebagai pengalaman dan pelajaran diri. Dalam perjalanan yang penuh dengan masalah tersebut anda sebetulnya sudah berfilsafat aliran empirisme.

Manusia tercipta dalam keadaan yang sama, sehingga untuk membentuk dirinya masing-masing, manusia butuh berdialog dengan dirinya sendiri dengan menggunakan kepekaannya. Disitulah antara fakir dan non fakir bergerak mengajarai anda menghadapi realitas yang ada didepan anda.

Tingkat keberanian seseorang dalam berfikir dan tingkat keberanian seseorang untuk mendobrak paradikma dan juga stigma merupakan penentu eksistensi orang tersebut. Individu yang berani menempuh sesiko lebih sesar dan nantinya akan mendapat hasil yang lebih besar. Individu yang dikebiri hal tertentu akan menjadi hebat hanya dalam hal tertentu pula.

Berfilsafat dan berkarya adalah sebuah entailment atau sesuatu yangterkait yang tak terpsahkan. Ketika manusia  pre-historik, tepatnya pada masa cro-magnon man yang mncri makan dengan menggunakan tombakterbuata dari tulang untuk membunuh manaks (seokor gajah raksasa). Pada dasarnya manusia tersebut telah mengalami pergumulan filosofis dalam menhadapai permasalahan kesehariaanya.oleh karena iitu muncullah Bone Spear (tombak tulang) untuk membantunya menangkap ikan. Memang hal tersebut merupakan sebuah invention, tetapi tidak adan invention kecuali seseorang melakukan pergulatan antara rasio dan rasa.

Karya tulis muncul juga karena manusia berfilsafat semakin manusia berani berfilsafat.semakin ia akan besar karyanya. Begitu pula Andrea Hirata tidak akan mampu menciptakan triloginya yang begitu fenomenal, andai kata ia tidak berani berfikir secara detail dan beranoi menantang paradikma standart yang ada. Ia telah menunjukkan bagaimana caranya merealisasikan bangunan mimpi yang ada dimasa lalu sehingga hal tersebut dapat terealisasi. Ia juga telah membelalakkan hati kita dengan edonsor dengan gaya filosofisnya bahwa “Tuhan itu menunggu”. Dengan pernyataan tersebut sudah dipasikan bahwa ia sempat berfikir tentang hakikat sebuah keberhasilan dan kegagalan, sehingga ia menyimpulkan bahwa Tuhan itu menunggu manusia yang hanya mampu berdo’a. secara rasio sama halnya dengan seorang bos yang lebih suka dengan karyawan pekerja keras daripada karyawan yang hanya bisa berbicara saja.

Secara formal filsafat pada dasarnya mampu berpijak diranah manapun. Pokok permasalah besar yang biasanya dikaji adalah sekitar logika, estetika, etika, kemudian berkembang keranah metafisika dan politik, dan pada akhirnya berkembang keranah epistimologi (filsafat pengetahuan), filsafat hokum, agama, ekonomi, matematika, sejarah dan sebagainya. Bagi saya setiap unsure yang hidup maupun yang mati yang berda sisekeliling kita mempunyai muatan filosofis. Selama hal tersebut mempunyai daya untuk mewarnai hidup manusia, maka hal tersebut layak untuk difikirkan oleh manusia.

Satu hanl yang perlu diperhatikan dalam berfilsafat adalah “menyakiti” atau merugikan orang lain secara frontal. Jika seseorang masih merasa sakit hati ketika ada orang lain berbeda fikiran degannya, maka orang tersebut belum waktunya berfilsafat. Berfilsafat adalah merasa perlu untuk mempelajari perbedaan yang ada dihadapannya. Memandang sebuah perbedaan sebagai mozaik kedinamisan seperti layaknya sebuah masyarakat yang mampu menyatu kedalam keberbedaan (E pluribus U num), tidak untuk menyatukan hasrat kesamaan yang dipastikan. Oleh karena itu, berfilsafat juga perlu berfikir untuk menjadi berbeda dengan orang lain karena kesamaan yang majemuk belum tentu menjadi sebuah kebenaran.

Reference:

Muhammad, Syaifuddin, Antologi Jam 2 Pagi, Yogya 2007 (belum terbit)

Mauhammad, Syaifuddin (2008) jalan ke tiga (multikulturalisme amerika: E Pluribus Unum), impulse KANISIUS Press.

Wallbank, waltern(1956), Civilization Past and Present, Scott, Foresman and Company

Wisma Pandia (2003), filsafat ilmu. Sekolah Tinggi  Teologi Injil Philadelphia.

Tentang SAMSUL HUDA

Kata orang saya adalah orang yang bodo dan bikin jengkel orang yang dekat dengan saya. Sekarang pun saya masih menjadi seorang mahasiswa yang seharusnya sudah mendapatkan gelar sarjana muda. Itu bukti bahwa mungkin apa yang dikatakakn orang itu benar tentang saya.
Pos ini dipublikasikan di CORETAN TINTA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s