PEMBACAAN AYAT SUCI AL-QUR’AN DALAM SETIAP ACARA KEAGAMAAN


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Puja dan puji syukur selalu terpanjatkan kepada Allah yang selalu memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kita dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyu’ tanpa ada halangan apapun.
Sholawat serta salam, semoga selalu tercurahkan kepada panutan kita, Nabi Muhammad SAW.yang telah menunjukkan jalan lurus, jalan kebenaram, yaitu addinul islam. Semoga nanti di yaumul kiyamah kita semua mendapat syafaatnya biqouli Allahumma Sholli ‘ala Muhammad.
Dalam kesempatan ini penulis akan memberikan sedikit wawasan tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan acara-acara keagaan yanh setiap tahun kita peringati. Bahkan tidak hanya acara keagamaan saja, tetapi acara yang beripa nasionalisme juga asa sebenarnya, namun akan kita bahas di tulisan berikutnya.
Dalam berbagai rangkaian kegiatan keagamaan, Tasyakuran, pernikahan, dsb.  Pasti diawali dengan pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, dimana seorang Qori-Qoriah diundang untuk mengisi acara tersebut dengan harapan selain tujuan ibadah fahala tentunya juga dapat mengumandangkan kemerduan suaranya melalui ayat-ayat yang dibacakannya. Sehingga pendengar dapat meresapi dan menghayati betapa mulia dan agungnya Allah dengan firman-firmannya.
Dalam konteks kegiatan acara yang diadakan, alangkah baiknya seorang qori-qoriah mencari ayag relevan, yaitu sesuai dengan acara keagamaan dan makna dari peringatan tersebut, selain itu arah dan tujuan acara utamanya. Sehingga tidak sekedar menampilkan keindahan suara dan harapan pahala semata, tetapi juga mengandung nilai syiarul islam dalam memaknai ayat-ayat al-Qur’an sebagai tauladan, pedoman, tuntunan, dan peringatan yang berkaitan dengan acara kegiatan tersebut.
Berikut ini rangkuman dari beberapa ayat yang disesuaikan dengan Acara peringatan keagamaan, diantaranya ialah:

SYUKURAN KEHAMILAN ( Rasa syukur diberkahi KETURUNAN)
– Surah faathir, ayat 9-10-11 dst.
– Surah Maryam, ayat 12-13-14-15 atau 23-24-25-26
– Dsb.

SYUKURAN AQIQAH ATAU KELAHIRAN ANAK
– Surah Al-Israa, ayat 23-24-25 dst
– Surah Thoha, ayat 99 s/d 104
– Surah Al-Muminun, ayat 115s/d 118
– Dsb.

WALIMATUL I’DJAR KHITAN ( Acara tasyakuran Khitankan Anak)
– Surah Albaqoroh, ayat 123 dan 286
– Surah Lukman, ayat 14-15-16 atau 17-18-19
– dsb
WALIMATUL URUSY ( Acara Akad Nikah)
– Surah An-Nisa, ayat 1 dan Surah Ar-Rum ayat 21 serta Tambahan Surah lainnya.
– Surah Ar-Rum, ayat 21 bisa ditambah dengan ayat-ayat yang mendukung seperti tentang Doa, Peringatan dsb. seperti Ibrahim, ayat 33-34, dan At-Tahrim, ayat 6
– dsb.

WALIMATUL HUJAJ (Acara Ratib- Syukuran keberangkatan Haji)
– Surah Al- baqoroh, ayat 196s/d200.
– Surah Al- baqoroh, ayat 197s/d203 bisa ditambah Surah Al-Quraisy.
– Surah Al-Hajj, ayat 26-27-28 dst.
– dsb.

WALIMATUL TU’FAH ATAU NAQ’IAH (Syukuran keberangkatan dan kepulangan )
– Surah Al- Mu’min, ayat 7-8-9.
– Surah Yunus, ayat 21-22-23.
– Surah An-Naml, ayat 60 s/d 66.
– dsb.

MAULID NABI MUHAMMAD SAW
– Surah Ali Imron, ayat 144.
– Surah At-Taubah, ayat 38-30-40.
– Surah Al-Fath, ayat 27-29.
– Dsb.

ISRO DAN MI’RAJ
– Surah Al-Isra, ayat 1- 2-3-4,dst.
– Surah Ali Imron, ayat 144 lalu tambah dengan ayat lainnya yang mendukung.
– Surah Al-fath, ayat 1-2-3-4-5.
– dsb.

NUZULUL QUR’AN
– Surah Al-Isro, ayat 9-10-11-12 atau Al-Ankabuut, ayat 51-52.
– Surah al-Qadr atau Al-‘Alak, ayat 1s/d 5
– Surah An-Nazm ,ayat 1s/d10 atau Al-Qiyaamah 16s/d 25.
– Dsb.

WALIMATUL WAAKIRAH (Syukuran menempati rumah baru)
– Surah Ibrohim ayat 34 s/d 41.
– Surah Al-Ankabuut, ayat 56 s/d 59 atau 60 s/d 63.
– dsb.

WALIMATUL MA’DABAH (Syukuran kegembiraan)
– Surah An-Nahl ayat 83.
– Surah Ibrohim ayat 31s/d 34.
– dsb.

WALIMATUL WALIMAH (Syukuran Terhindar dari bencana)
– Surah Al-Baqoroh, ayat 214 boleh ditambahkan surah dan ayat lainnya.
– Surah Ar-Rum, ayat 41 dan An-Nisa, ayat 79.
– dsb.

Uraian diatas hanyalah beberapa contoh dimana kita dapat menggalinya atau memilihnya lagi sesuai pertimbangan kemudahan membaca atau melantunkannya.
Dapat juga kita membaca karena selain harapan pahala juga adanya Fadhilah /kegunaan /keutamaan membaca ayat-ayat tertentu sesuai tujuan acara. Untuk fadhilah keutamaan membaca ayat-ayat ini tentu harus sesuai dengan yang dianjurkan oleh Rasulullah atau ada sandaran keterangan yang mendukung maksud dan tujuannya. Demikian apa yang dapat penulis kemukakan,  tentunya tukisan ini masih banyak sekali kekurangan, sehingga saran dan kritikan sangat penulis harapkan. Dan masih banyak kesalahan dalam penukisan, penilis mohon maaf, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, bagi diri penulis pribadi maupun bagi pembaca yang budiman.
Sekian Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.

Dipublikasi di CORETAN TINTA | Meninggalkan komentar

MUSIBAH DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN


Kali ini penulis akan memaparkan sedikit dari makna musibah. Hal ini dikarenakan sudah mulai terjadinya penyempitan makna, sehingga terjadilah kesalahan dalam penafsiran, baik berupa pemikiran maupun perbuatan dalam menyikapinya. Sehingga penulis berpendapat bahwa penyempitan makna tersebut harus segera ditindak lanjuti, agar kesalahan tersebut bisa sesegera mungkin dapat diminimalisir.
Untuk itu mohon disimak uraian dibawah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi penulis pribadi.

Allah telah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. 42:30)

Kira-kira, manusia sekarang ini mengidentifikasi musibah sebagai segala hal dahsyat, yang terjadi di luar kehendak manusia dan menyebabkan kematian dan kesengsaraan banyak manusia. Pada saat terjadi musibah itu, manusia baru merasakan keprihatinan yang mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan menyerahkan kepada Yang Maha Tunggal. Sayangnya, penyerahan kepada Sang Kuasa tersebut lebih bernuansa Su’ udz-Dzan atau Negative Thinking kepada-Nya.

Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna dan falsafah atas pengertian musibah. Manusia tidak lagi berpengertian bahwa sebenarnya, musibah tidak sesederhana “segala bencana yang di luar kehendak manusia”. Akibatnya, sepertinya ada dua pilihan bagi kita yaitu: Menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan alam murni, atau mengkaitkannya dengan kehendak Sang Kuasa. Pilihan pertama sudah jelas, ia lebih banyak diimani masyarakat Barat. Pilihan kedua adalah pilihan yang hingga kini masih dipegang umat Islam. Hanya saja, pilihan kedua ini masih berupa pemahaman yang global dan masih banyak umat Islam yang belum dapat memahami bagaimana menyikapi makna musibah ini.
Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Allah kepada mereka, maka pandangan mereka keliru, karena kesenangan merupakan ujian yang disisipkan Allah. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Allah, itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata, “Saya disenangi Allah,” dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata, “Allah membenci saya, Allah menghina saya”.
Jangan salah arti apabila saudara-saudara kita yang meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Allah. Dan  Jangan pernah menduga yang menderita itu dimurkai Allah. Semua kejadian yang menimpa kita semua adalah mutlak kehendal Allah, baik kejadian yang membahagiakan maupun kejadian yang menyusahkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di CORETAN TINTA | Meninggalkan komentar

AWAS PERSELINGKUHAN


Kata selingkuh berasal dari bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur atau sembunyi-sembunyi; atau menyembunyikan sesuatu yang bukan miliknya. Termasuk maknanya pula adalah perbuatan serong.
Meskipun demikian, istilah selingkuh di Indonesia memiliki makna khusus “hubungan gelap” atau hubungan seseorang—yang sudah bersuami atau sudah beristri—dengan pasangan lain.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di CORETAN TINTA | Meninggalkan komentar

RAHASIA DAN KEISTIMEWAAN ANGKA 7 ( TUJUH )


Alhamdulillah segala puja dan puji syukur bagi Allah yang menciptakan semesta alam, dan yang menguasainya. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad yang senantiasa membimbing setiap perjalanan menuju keutamaan yang hakiki yaitu jalan yang penuh terang benderang, dalam jalan agama Islam. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di hari Kiamat yang selalu kita nantikan bersama.

Perenungan untuk memahami al-Quran adalah suatu keharusan dalam menambah wawasan ketakwaan dan keilmuan, sehingga kita semua terjaga dari bahya keterpurukan iman. Selain itu sikap perenungan untuk memahami al-Quran dapat menjadikan pikiran semakin luas, arif dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan, tidak serta merta membenarkan atau menyalahkan dengan taklid buta. Itulah jalan kebenaran dengan al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan.

Fenomena alam memang begitu rumit, tetapi selama masih berhubungan dengan dunia, maka semua itu mungkin untuk dipelajari dan dipahami. Tidak dapat dipungkiri, angka tujuh adalah salah satu angka istimewa dan fenomenal, angka ini memiliki keistimewaan dalam berbagai rutinitas ibadah, alam semesta, dan juga sejarah. Lalu apa rahasia dibalik angka ini yang menjadikan angka tujuh tersebut istimewa? Berikut sekilas tentang keistimewaaan angak tujuh.

Allah memilih angka tujuh dalam penciptaan lapisan langit dan bumi yang berjumlah tujuh lapis.

“Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit”. (al-Baqarah: 29).

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah”. (al-Isra: 44)

“Katakanlah. Siapakah yang memiliki tujuh langit dan ‘arasy yang besar”. (al-Mu’minun: 84)

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya”. (Fushshilat: 12)

“Allah-lah Yang menciptakan tujuh langit dan reperti itu pula bumi”. (aI-Thalaq: 12)

“Yang telah menjadikan tujuh langit berlapis-lapias”. (AI-Mulk: 3)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (Nuh: 15)

Atom yang dianggap sebagai dasar pembentuk alam tersusun dari tujuh tingkatan elektron dan tidak mungkin lebih dari itu.

Jumlah hari dalam satu pekan yang berjumlah tujuh.

Yaitu, Senin (kedua), Selasa (ketiga), Rabu (keempat), Kamis (kelima), Juma’at (Berkumpul/ berjamaah), Sabtu (berhenti atau terakhir), dan Minggu (kesatu).

Jumlah warna pelangi sebanyak tujuh.

Yaitu Merah (berani dan cinta yang membara), Jingga (kekuatan dan kesehatan), Kuning (keceriaan, kesenangan yang adadi), Hijau (sumber kehidupan), Biru (kedamaian), Nila (Kesederhanaan), dan Ungu (kemewahan dan kebijaksanaan).

Rasulullah banyak menyebutkan angka tujuh dalam beberapa haditsnya.

Seperti misalnya “Aku datang untuk menjelaskan lailatul qadar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat sehingga akhirnya diangkat (lailatul qadar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka dapatkanlah (lailatul qadar) pada hari ketujuh, enam, dan lima”. (HR. Bukhari)

Contoh yang lain “Jika anjing menjilat bejana, maka hendaklah ia cuci hingga tujuh kali”. (HR. Bukhari). Dll.

Kita diperintah sujud dengan tujuh tulang.

Seorang mukmin bertawaf di sekeliling Baitullah sebanyak tujuh putaran, melakukan sa’i antara shafa dan marwa sebanyak tujuh kali juga, serta melempar jumrah dengan tujuh kali.

Kata kiamat dalam Al-qur’an disebutkan sebanyak 70 kali. Kata jahannam disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 77 kali. Keduanya merupakan kelipatan dari angka 7.

Nabi Bersabda: “Pada hari itu Jahanam didatangkan dengan 70 ribu kendali”. (HR. Muslim).

Jumlah dari pintu Neraka ada 7 pintu. Kalimat Jahannam dalam al-Quran jumlahnya ada 77 x, dan jumlah 77 ini adalah perkalian dari 7, yakni 7×11=77.

Dalam al-Quran terdapat tujuh surah yang diawali dengan kalimat tasbih.

Yaitu surat al-Hadiid, surat al-Hashr, surat as-saff, surat al-Jumua, surat at-Taghabun, dll. Kalimat tasbih tersebut baik yang berupa fi’il madzi, maupun mudzore’.

Angka tujuh digunakan Allah dalam perumpamaan dalam sedekah.

Seperti firman Allah: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261).

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang diminta karena Allah, lalu memberi maka tujuh puluh kebaikan ditulis untuknya.” (HR. Baihaqi).

Terdapat tujuh ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang penciptaan langit.

Ayat-ayat itu adalah: Surat al-A’raf: 54, surat Yunus: 3, surat Hud: 7, surat al-Furqan: 59, surat as-Sajadah: 4; surat Qaf: 38, dan surat al-HAdid: 4.

Angka 7 adalah angka yang pertama sekali disebutkan didalam al-Quran

Yaitu didalam surat al Baqarah 29 yang berbunyi Tsummastawaa ilassamaai fasawwa hunna SAB’A samawaatin, wahuwa bikulla syain ‘aliim.

Angka 7 adalah angka yang paling banyak diulang dalam al-Quran setelah angka 1 (ahad) tentunya., ini menunjukkan betapa pentingnya angka ini.

Awal surah dalam al-Quran adalah surah al-Fatihah, dia adalah semulia-mulia surah dalam al-Quran.

Oleh karenanya surah al-Fatihah dinamakan dengan sab’ul matsaani (silahkan dilihat kembali penafsiran surah ini), sementara jumlah ayatnya ada 7 ayat.

Jumlah bilangan huruf abjad dalam bahasa Arab yang diturunkan oleh Allah ta’ala dalam Al-Quran ada 28 huruf.

Jumlah 28 ini adalah perkalian dari angka 7, yakni 7×4=28.

Ketika Nabi saw menerangkan hal-hal yang merusak, beliau membatasinya pada 7 hal.

Beliau bersabda: “Jauhilah 7 hal yang merusak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika menerangkan orang-orang yang akan dinaungi Allah SWT pada hari Kiamat, beliau membatasinya pada 7 golongan.

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah SWT dengan bayangan-Nya pada saat tiada naungan kecuali dari bayangannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika menerangkan kezaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa alasan, beliau menjadikan angka 7 sebagai simbol azab pada hari Kiamat.

Beliau bersabda, “Orang yang menzalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan azab dari 7 bumi”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi saw menerangkan bahwa Allah SWT memerintahkan kita bersujud dengan 7 organ tubuh.

Nabi bersabda: “Aku diperintah untuk bersujud dengan 7 tulang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika bejana dijilat anjing, maka disucikan dengan mencucinya 7 kali, salah satunya dengan debu.

Rosul juga berbicara tentang Jahanam pada hari Kiamat.

Nabi Bersabda: “Pada hari itu Jahanam didatangkan dengan 70 ribu kendali”. (HR. Muslim). Beliau memohon perlindungan dari azab Jahanam sebanyak 7 kali dengan doa, “Ya Allah SWT, selamatkanlah aku dari neraka”. (HR. An-Nasa’i).

Tentang sebab-sebab kesembuhan, Nabi SAW memerintahkan kita untuk membaca doa berikut 7 kali,

Nabi Bersabda: “Aku berlindung kepada Allah SWT dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang kudapatkan dan kutakutkan”. (HR. Muslim).

Makanan kurma kurma sebanyak 7 biji.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa makan 7 korma di pagi hari setiap hari, maka pada hari itu, dia tidak akan terkena racun dan sihir”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits Nabi SAW tentang puasa di jalan Allah SWT menjelaskan pahala yang besar yang disiapkan Allah SWT bagi pelakunya.

Nabi bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah SWT, kecuali Allah SWT menjauhkannya berkat puasa sehari itu dari neraka sejauh 70 musim gugur”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika seorang sahabat meminta beliau menjelaskan rentang waktu untuk mengkatamkan al-Quran.

Rasulullah bersabda: “Katamkan al-Quran setiap 7 hari dan jangan lebih cepat dari itu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi saw membaca istigfar 70 kali sehari.

Beliau menerangkan kelipatan pahala dalam sabdanya, “Setiap perbuatan manusia menggandakan kebaikan dengan 10 kali lipat, sampai 700 kelipatan”. (HR. Muslim).

Ketika mengajarkan cara berlindung kepada Allah SWT untuk menghilangkan kegelisahan, Nabi saw memerintahkan kita untuk mengulang-ulang pembacaan ayat berikut sebanyak 7 kali

Firman-Nya, “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Ia. Kepada-Nya aku berserah diri. Dia adalah Tuhan Arasy yang agung”. (QS 9 At-Taubah : 129).

Itulah sedikit tulisan yang berkenaan dengan keistimewaan angka tujuh, apabila ada salah penulisan atau salah pemaknaan, itu semua murni dari kesalahan penulis dan kemampuan penulis. Penulis meminta maaf sebesar-besarnya. Tapi apabila benar, maka itulah kebenaran dan petunjuk yang datang dari Allah.

Penulis membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima saran maupun kritikan sebagai perbaikan.

Semoga dari setitik tulisan ini dapat memberikan penerangan kepada pemahaman, sehingga kita semua lebih yakin dan lebih percaya akan ayat-ayat yang menjadi petunjuk yang Allah diturunkan melalui Nabi dan Rasuln-Nya Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bissowab

Dipublikasi di FENOMONOLOGI, PENGETAHUAN | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

LEBIH DALAM MENGENAL BID’AH


Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur tak henti-hentinya selalu tercurahkan kepada pemilik alam semesta, pengatur kehidupan seluruh makhluk, pemberi hidayah kepada hamba-Nya yang dikehendaki.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, kepada para sahabatnya, dan kepada semua yang mengikuti beliau sampai akhir zaman. Semoga dengan shalawat, kita senantiasa mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti dengan cahaya keimanan.

Sudah menjadi bahan pembicaraan umum tentang adanya bid’ah dalam kehidupan umat islam. Tidak diragukan bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang lumrah. Ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak dan lainnya. Semua itu adalah murni dari rahmat Allah yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tidak terkecuali.

Akan tetapi untuk mengurangi perpecahan dalam pemaknaan bid’ah yang akan terjadi, maka para ulama salaf telah mendefinisikan masalah tersebut secara sistematis, jelas dengan berbagai dalil baik dari hadits maupun quran sebagai landasannya. Tentu saja pendefinisian itu masih dalam bentuk pendekatan kepada kebenaran, tetapi kesalahan-kesalahan pastilah tetap ada sesuai dengan kemampuan para penafsirnya.

Tetapi pada akhir-akhir ini banyak terjadi penyelewengan pemaknaan kata bid’ah itu sendiri. Tidak sedikit mengatakan bahwa semua hal yang baru dan pada kehidupan Rasulullah tidak ada, maka dianggap sesat dan batil. Maka perbuatan itu dihukumi haram. Tentu saja mereka yang kurang mendalami dan memahami tentang kaidah-kaidah yang berlaku, serta mereta menghukumi perkaran baru tersebut dengan kata sesat dan haram.

Untuk menghindari penyelewengan makna kata bid’ah, maka tidak salahnya kita simak keterangan sebagai berikut.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ISLAM, SOSIAL | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

PUASA TARWIYAH DAN PUASA ARAFAH


Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur bagi Allah pencipta semesta alam yang telah menjalankan peredaran alam dengan sangat rapih, penuh kesempurnaan dan tanpa cacat. Mengedarkan Matahari dan Bulan sehingga memunculkan ketetapan masa.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi kita, Nani akhir zaman, Nabi Muhammad Saw. Yang telah memnunjukkan jalan kebenaran tanpa keraguan, yaitu agama Islam.

Kali ini penulis akan memberikan sedikit pencerahan mengenai puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, yang mana puasa tersebut akan berlangsung beberapa hari lagi. Dalam penjelasan ini akan dijelaskan sedikit tentang pengertian, dan fadhilah yang terkandung dari kedua puasa tersebut.

Pengertian Puasa Tarwiyah

Puasa tarwiyah adalah puasa suhan yang dilaksanakan sebelum puasa Arafah, tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijah. Puasa tarwiyah dilaksanakan sebelum puasa arafah dikarenakan pernyataan hadits yang menyebutkan bahwa:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

“Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Redaksi hadits tersebut menjelaskan puasa tarwiyah dilaksanakan sebelum puasa Arafah dan kemudian disusul puasa Arafah yang dilakukan setelahnya.

Istilah Tarwiyah berasal dari bahasa Arab (تَرَوَّي) “Membawa bekal Air”. Hal ini dikarenakan pada waktu itu para jamaah haji banyak yang membwa bekal air Zam-zam untuk mempersiapkan di padang Arafah ketika wukuf dan akan menuju Mina.

Menurut Ibnu Qadamah menjelaskan asal penamaan itu yaitu:

سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم – عليه السلام – رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية

“Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari arafah. Ada juga yang mengatakan, dinamakan hari tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari tarwiyah”. (al-Mughni, 3/364).

Fadhilah Puasa tarwiyah

Seperti hadits yang telah disampaikan diatas bahwa puasa tarwiyah akan menghapuskan dosa satu tahun. Hal ini berlaku bagi orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Selain itu bagi orang yang melakukan puasa Tarwiyah dan arafah berturut-turut, maka pahalanya sama dengan orang yang menjalankan ibadah haji. Wallahu a’lam.

Hukum Puasa Tarwiyah

Hukum melaksanakan puasa Tarwiyah adalah dianjurkan bagi orang yang tidak melaksanakkan haji. Sedangkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tidak dianjurkan untuk menjalankan puasa Tarwiyah, hal ini karena dikahwatirkan bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji tidak kuat dalam berdoa, atau kekuatan fisiknya melemah akitat puasa yang dijalaninya.

Walaupun dalam keyataan bahwa sumber hadits dari puasa Tarwiyah adalah dloif, puasa ini tidak bisa diartikan sebagai landasan bid’ah, sehingga hukuman bagi yang menjalankan adalah haram, selain itu dalil-dalil yang menjelaskan kebolehannya menjalankan puasa di hari tarwiyah karena hari tersebut termasuk pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas meriwayatkan Rasulullah bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

“Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid)”. (HR Bukhari)

Dalil Tentang Puasa Tarwiyah

Terdapat hadis yang secara khusus menganjurkan puasa Tarwiyah, hadits itu menyatakan:

مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun”.

Hadis ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’. Tetapi para ulama berbeda pendapat, dijelaskan bahwa hadits tersebut merupakan hadits palsu. Hal ini dijelaskan oleh Ubnul Jauzi. Beliau mengata: “Hadits ini tidak shahih. Sulaiman at-Taimi mengatakan, ’at-Thibbi seorang pendusta.’ Ibnu Hibban menilai, ’at-Thibbi jelas-jelas pendusta. Sangat jelas sehingga tidak perlu dijelaskan. Penjelasan tersebut terdapat pada kitab al-Maudhu’at, 2/ 198).

Hal serupa dijelaskan oleh as-Saukani, mengatakan: “Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Adi dari A’isyah secara marfu’. Hadits ini tidak shahih dikarenakan terdapat parawi yang bernama al-Kalbi, dia seorang pendusta. (al-Fawaid al-Majmu’ah).

Sebagian ulama mengatakan bahwa hadits itu bukan Maudhu’ melainkan hanya dho’if. Yaitu riwayat dari jalur lainnya yaitu dari jalur Ibnu Najjar.

صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة

“Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu”.

Hadits tersebut oleh Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih. Dan kita tahu bahwa jumhurul ulama sepakat boleh mengamalkan hadits dho’if dalam fadhoil a’mal.

Dasar hadits yang dipergunakan ini adalah dhoif (kurang kuat riwayatnya) namun demikian para ulama memperbolehkan melaksanakan puasa Tarwiyah, yang dimaksudkan untuk memperoleh keutamaan dari puasa Tarwiyah tersebut (Fadloilul ‘amal). Agar umat Islam yang menjalankan puasa Tarwiyah mendapatkan keutamaan dari ibadah haji yang sedang berlangsung pada waktu itu. Puasa Tarwiyah tersebut juga tidak melanggar akidah maupun syariat islam.

Kedloifan hadits puasa Tarwiyah dikarenakan beberapa alasan, pertama: Kalbi (sanad ketiga) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalbi. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas). Selain itu menurut Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudlu’ (palsu)” Tentang Kalbi ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil.

Alasan yang kedua, Ali bin Ali Al-Himyari (sanad kedua) adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Tetapi kedloifan tentang puasa Tarwiyah tersebut bisa dijelaskan dengan hadits yang lain seperti misalnya: “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”. (Muttafakun ‘alaih).

Dan hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (HR Bukhari Muslim).

Pengertian Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada setiap tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah), yang mana puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslim yang tidak menjalankan rukun Haji. Dalam melaksanakan puasa Arafah tidak jauh beda dengan puasa sunah pada umumnya. Di lakukan pada waktu terbit fajar sampai terbenamnya fajar.

Fadhilah puasa Arafah

Dari Abu Qatadah meriwayatkan, Rasulullah bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

“Puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Puasa Asyura’ menghapuskan dosa tahun sebelumnya”. (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmizy).

Pelaksanaan puasa Arafah tersebut tiak didasarkan pada waktu wukuf yang dilaksanakan pada hari ke-9 Dzulhijah (hari Arafah), melainkan karena datangnya hari Arafah. Oleh karena penetapan waktu daerah yang berlainan, maka penetapan itu ditetapkan menyesuaikan dengan daerah asalnya (Makkah). Dimana waktu negara Indonesia dengan Arab selisih 4-5 jam lebih dahulu Arab. Penentuan ini di dasarkan pada letak geografis yang menjadikan perbedaan waktu.

Keutamaan Puasa Arafah

Dari Abu Qatadah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

…صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Hukum Puasa Arafah

Hukum puasa Arafah adalah sunah Muakad atau sunah yang dianjurkan, tetapi bagi yang melaksanakan ibadah Haji tidak ada kewajiban untuk menjalankannya, karena terdapat perbedaan pada masalah ini. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau berkata,

سُئِلَ ابْنُ عُمَرَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَأَنَا لَا َأصُوْمُهُ وَلَا أَمُرُ بِهِ وَلَا أَنْهَى عَنْهُ

“Saya telah melaksanakan haji bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedangkan beliau tidak puasa di ‘Arafah, saya juga pernah berhaji bersama Abu Bakar dia juga tidak puasa ‘Arafah, pernah juga bersama Umar dan dia tidak berpuasa, demikian juga halnya bersama ‘Utsman dia juga tidak berpuasa, dan saya tidak berpuasa juga, saya tidak memerintahkan dan tidak melarangnya”.

Di riwayatkan juga oleh Abu Hurairah berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang berpuasa pada hari ‘Arafah bagi yang sedang di ‘Arafah”. (HR. Abu Daud No. 2440, Ibnu Majah No. 1732, Ahmad No. 8031, An Nasa’i No. 2830, juga dalam As Sunan Al Kubra No. 2731, Ibnu Khuzaimah No. 2101, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1587).

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim tapi keduanya tidak meriwayatkannya.” (Al Mustadrak No. 1587) Imam Adz Dzahabi menyepakati penshahihannya. Dishahihkan pula oleh Imam Ibnu Khuzaimah, ketika beliau memasukkannya dalam kitab Shahihnya. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar: Aku berkata: Ibnu Khuzaimah telah menshahihkannya, dan Mahdi telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban. (At Talkhish, 2/461-462).

Seperti yang telah disebutkan dalam hadits tersebut memang dianjurkan untuk tidak berpuasa bahkan melarangnya dengan alasan agar bagi orang yang sedang melaksanakan wukuf kuat dalam berdoa dan melaksanakan ibadah, seperti misalnya shalat sunnah, membaca al-Quran, berdzikir, dll. Penguatan agar tidak menjalankan puasa ketika wukur adalah para sahabat (Abubakar Umar, dan Usman), tidak melaksanakan puasa arafah ketika wukuf.

Sebab perbedaan tersebut terjadi perbedaan pendapat dikarenakan apabila Nabi Muhammad melakukan puasa Arafah ketika wukuf, akan menjadikan puasa Arafah di hukumi wajib untuk dilaksanakan bagi orang yang melaksanaka haji.

Sedangkan para ulama yang membolehkan puasa Arafah adalah Imam Al Munawi yang berpendapat bahwa, “Berkata Al Hakim: ‘Sesuai syarat Bukhari’, mereka (para ulama) telah menyanggahnya karena terjadi ketidakjelasan pada Mahdi, dia bukan termasuk perawinya Bukhari, bahkan Ibnu Ma’in mengatakan: ‘Majhul’. Al ‘Uqaili mengatakan: ‘Dia tidak bisa diikuti karena kelemahannya’. (Faidhul Qadir, 6/431)  Lalu,  Mahdi Al Muharibi – dia adalah Ibnu Harb Al Hijri, dinyatakan majhul (tidak diketahui) keadaannya oleh para muhadditsin.

Ke majhulan Mahdi al-Muharibi juga di sebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (At Talkhish Al Habir,  2/461), Imam Al ‘Uqaili mengatakan dalam Adh Dhuafa: “Dia tidak bisa diikuti”.

Selain para ulama diatas juga terdapat ulama lain diantaranya adalah Imam Yahya bin Ma’in, Imam Abu Hatim, dan Imam Ibnul Qayyim.

Hal ini juga dijadikan sandaran hukum bagi pengikut mazhan Hanafiyah seperti yang tercantum pada kitab karangan Syaikh Wahbah az-Zuhaili, dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu bahwa, “Boleh saja berpuasa Arafah bagi jamaah haji yang sedang wukuf jika itu tidak membuatnya lemah”. Lebih lanjut beliau mengatakan tidak dianjurkan bagi jamaah haji yang fisiknya tidak kuat, tujuannya agar kuat melakukan doa, adapun para jamaah haji, tidaklah disunahkan berpuasa pada hari Arafah, tetapi disunahkan untuk berbuka walau pun dia orang yang kuat, agar dia kuat untuk banyak berdoa, dan untuk mengikuti sunah. Pendapat ini menunjukkan bahwa disunahaknnya puasa Arafah bukan berarti tidak diperbolehkannya sama sekali. Kemakruhan puasa Arafah juga berlaku untuk puasa Tarwiyah.

Menurut pendapat mazhab Malikiyah di hukumi makruh bagi jamaah haji yang melaksanakan puasa Arafah, begitu juga ketika puasa Tarwiyah.

Menurut Mazhab Syafi’iyah berpendapat: “jika jamaah haji mukim di Mekkah, lalu pergi ke ‘Arafah siang hari maka  puasanya itu  menyelisihi hal yang lebih utama, jika pergi ke ‘Arafah malam hari maka boleh berpuasa. Jika jamaah haji adalah musafir, maka secara mutlak disunahkan untuk berbuka”.

Sedangkan menurut mazhab Hambali berpendapat bahwa: “Disunahkan bagi para jamaah haji berpuasa pada hari ‘Arafah jika wuqufnya malam,  bukan wuquf pada siang hari, jika wuqufnya siang maka makruh berpuasa”.

***

Terlepas dari boleh tidaknya puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, berikut itu ada beberapa dalil yang menjelaskan tentang anjuran untuk melakukan puasa 10 hari pertama bulan Dzulhijah yang dijelaskan secara khusus oleh Syaikh Musthafa Al Adawi, diantara hadits tersebut adalah:

Hadits Ummul Mukminîn ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang dikeluarkan oleh Muslim yang redaksinya, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah berpuasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah).”

Dikeluarkan oleh an-Nasâi dan lainnya dari jalur seorang rawi yang bernama Hunaidah bin Khâlid, terkadang ia meriwayatkannya dari Hafshah ia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: (diantaranya): puasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah)”.

Selain itu ada hadits lain dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi)

Dari kedua hadits diatas menurut pernyataan  Hunaidah pada riwayat ini diperselisihkan oleh ulama, sebab terkadang ia meriwayatkan dari ibunya, dari Ummu Salamah sebagai ganti dari Hafshah, dan terkadang pula dari Ummu Salamah secara langsung, kemudian ia mendatangkan bentuk lain dari bentuk-bentuk yang berbeda!”

Dari sisi keabsahan, maka yang unggul bahwa hadits ‘Aisyah yang terdapat di dalam shahih Muslim adalah lebih shahih, sekalipun padanya terdapat bentuk perselisihan dari Al A’masy dan Manshûr.

Namun diantara ulama ada yang mencoba mengkompromikan dua hadits tersebut yang kesimpulannya, “Bahwa masing-masing dari istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang ia saksikan dari beliau, bagi yang tidak menyaksikan menafikkan keberadaannya, dan yang menyaksikan menetapkan keberadaannya, sedang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendiri menggilir setiap istrinya dalam sembilan malam (hanya) satu malam. Maka atas dasar ini dapat dikatakan, “Jika seseorang terkadang berpuasa dan terkadang tidak berpuasa, atau ia berpuasa beberapa tahun lalu tidak berpuasa beberapa tahun (berikutnya) ada benarnya, maka manapun dari dua pendapat tersebut diamalkan maka ia telah memiliki salaf (pendahulu)”.

Demikianlah sedikit penjelasan dari penulis, semoga dapat menjadikan kemanfaatan bagi kita semua, terutama dalam menyikapi perbedaan sebagaimana yang telah penulis kemukakan diatas. Perbedaan adalah anugerah dari Allah, maka jadikanlah hal tersebut sebagai rahmat yang mempererat tali persaudaraan, dan tidak dijadikan sebagai alat untuk memecah belah manhaj yang sudah dibangun oleh para pendahulu kita semua.

Wallahu a’lam bis shawab.

Dipublikasi di BUDAYA, CORETAN TINTA, ISLAM, SOSIAL | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

KAJIAN TENTANG SHALAT JUM’AT


Jamaah Shalat Jumat

Jamaah Shalat Jumat

A.      Hukum Dan Pensyariatannya

Shalat Jumat hukumnya fardu ‘ain (wajib) bagi setiap orang islam laki-laki, hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Dan dalil pensyariatannya termaktub di dalam Al-Quran dan  As-sunnah an-Nabawiyah, sehingga pengingkaran atas syariat wajib jum’at adalah kekafiran.

Hanya Ibnu Rusyd menyebutkan adanya beberapa pendapat yang berlainan dalam kitabnya, tetapi hal ini telah dibantah oleh para ulama, dan ulama telah menetapkan tidaklah mengingkari wajibnya jum’at kecuali ahlu bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Berikut ini dalil-dalil hukum fardhu ‘ain shalat jum’at bagi laki-laki :

1.   Al-Quran

Perintah wajibnya shalat jum’at termaktub dalam ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( Al-Jumu`ah : 9).

2.   Sunnah

Diantara hadits-hadits yang menerangkan pensyariatan shalat jum’at adalah :

baca selengkapnya

Dipublikasi di BUDAYA, ISLAM, SOSIAL | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar